Category Archives: HaeMin Couple

need

Entah sejak kapan aku menginginkannya.

Eksistensinya menjadi kebutuhanku.

Duniaku terasa berbeda tanpanya.

Aku fikik semua yang kurasakan hanyalah karena rasa ketergantungankun padanya

Tapi….

Yang kurasakan tak sesederhana itu.

Begitu banyak hal yang sulit dijelaskan.

Begitu banyak rasa yang ditimbulkannya.

Begitu banyak warna tercipta.

Itu cukup bagiku.

Apa aku terlalu egois untuk mencintainya?

Min-Ah Choi

 

 

 

 

aku kehilangan udaraku.

Alasanku untuk bernafaas. Alasanku untuk terus membuka mataku. Aku kehilangan sepasang benda tercantik seumur hidupku. Kedua mata cokelatnya. Yang selalu terlihat bersinar dimataku. Aku merindukannya. Apakah dia hidup dengan baik hari ini?

Apa yang dia makan hari ini?

Apa dia baik-baik saja?

Apa ada seseorang yang menyakitinya?

Aku tenggelam dalam perasaanku sendiri. Tapi aku hanya dapat mencintainya dalam diam. Menguburnya dalam hingga aku saja yang mengetahuinya. Aku mencintainya karena terbiasa. Terbiasa akan ketergantungan akutnya terhadapku. Hanya sesederhana itu. Hal sederhana yang membuatku ingin menjaganya seumur hidupku. Tidak peduli sesakit apa aku mencintainya. Yang aku tahu hanya aku mencintainya. Fokusku hanya tertuju padanya. Sumber rotasiku.

Read the rest of this entry

promise.. 사랑이 언제나 집에있을 때

Seharusnya dia tidak disini. Tidak dengan wajah secerah itu. Tidak dengan senyum seceria itu. Mengapa dia menungguku? Seharusnya dia lupakan saja janji konyol itu. Memulai hidupnya yang baru saat aku meninggalkannya. Aku tidak bisa bernafas. Gadis itu. Gadis yang sama. Sama seperti waktu aku mengenalnya dulu. Saat aku memutuskan untuk mencintainya sampai saat itu datang dan disinilah ia sekarang.

***

            Ini hari terakhirku melihatnya. Dadaku rasanya sesak. Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku akan meninggalkannya. Gadis itu masih tersenyum dihadapanku. Menggenggam boneka pemberianku saat ulang tahunnya yang ke-10. Rambut coklat panjang yang bergelombang terjuntai sempurna. Mata cokelatnya. Pipinya yang merona. Kulitnya yang putih seperti pualam. Terlihat sempurna bagiku. Aku akan merindukannya. Choi Min-ah. Sahabat kecilku. Cinta pertamaku.

“Min-Ah~ya” aku memanggilnya. Suaraku serasa tak bisa keluar. Aku ingin menangis tapi aku tidak boleh. “ini untukmu. Hadiahku.” Aku memberikannya sebuah gelang  berbentuk sepotong sayap padanya.

“untuk apa? Ini bukan hari ulang tahunku Hae. Kau tau itu.” Aku tahu dia mengetahui kepergianku. Air matanya mengalir dipipinya yang berwarna pink itu.

“aku tahu kau tahu. Aku akan pergi hari ini. Ayahku dipindah tugaskan ke
Paris. Aku, aku sebenarnya tidak ingin ikut. Aku ingin disini. Bersamamu Min. Tapi aku tidak bisa.” Pipiku terasa panas. Aku menangis. Dia tersenyum. “ini untukmu. Kau tahu, malaikat tidak dapat terbang dengan sebelah sayap. Jika ada sepasang dia baru bisa terbang. Disini ada namaku. Hae. Yang ini untukku. Ada namamu dibaliknya. Min. HaeMin. Bukankah itu cocok? Ini sepasang.” Terukir senyum dibibir mungilnya itu namun, air mata masih mengaliri pipinya.

“berjanjilah. Jebal[1]!”

“berjanji?”

“baiklah. Aku berjanji akan menemuimu lagi saat umur kita sudah 21 tahun. Jika saat itu datang, menikahlah denganku Min-Ah~ya. Kau juga harus berjanji kau akan menungguku hingga saat itu tiba. jangan mencintai laki-laki lain sampai saat itu datang.  Arraseo[2])”  ia mengangguk menyetujui janji itu. Aku memeluknya sebentar dan inilah waktuku pergi.

***

 

 

 

 

 

10 TAHUN KEMUDIAN

Selama 3 tahun  aku mengamatinya dari jauh. Mengikutinya kemanapun ia pergi di tengah kesibukkanku. Aku tidak perduli jika ada wartawan yang memergokiku sedang memantaunya. Dia masih sama seperti 10 tahun lalu saat aku meninggalkannya. Mungkin ia bertambah cantik. Bagiku dia adalah gadis tercantik dalam hidupku. Sudah lewat 3 tahun dari janjiku padanya. Aku masih belum bisa menemuinya secara langsung walaupun kami berada dalam jarak yang sangat dekat. Tidak dengan diriku saat ini. Aku belum bisa. Aku tidak ingin dia terlibat dalam hidupku yang rumit seperti ini. Aku tidak ingin dirinya terancam jika tiba-tiba saja aku muncul dihadapannya dan menikahinya. Itu tidak adil untuknya.

Hari ini aku mengamatinya dari pagi saat ia keluar dari rumahnya. Rumah yang sama sejak saat itu. Aku mengikutinya berbelanja dengan Eun-Mi. Sahabat barunya sejak kepergianku. Melihatnya dari jarak seperti ini saja sedah membuatku sesak nafas. Dia begitu cantik. Aku mengikutinya masuk ke dalam toko es krim. Aku duduk tepat di belakang bangkunya. Mendengarkan semua percakapannya dengan Eun-Mi. Sampai tiba-tiba ponselku berdering.

“aku tahu itu hyung[3]. Aku akan segera kesana.”

“……”

“aku bukan penguntit! Berhenti memanggilku penguntit. Aku tidak suka dengan sebutan itu” aku segera memutuskan hubungan telponku tanpa menunggu jawaban dari orang yang menelponku itu. Aku harus pergi sekarang. Aku ada jadwal manggung hari ini. Aku terpaksa melepas pengawasanku pada gadis ini. Dan ya, aku seorang penyanyi. aku tidak  berniat untuk menjadi seorang penyanyi sebelumnya sampai noona[4] gila itu mengirim foto dan profilku untuk audisi di salah satu agen terbesar di seoul. Dia menghancurkan masa depanku sekarang.

***

            Aku menunggunya di sebuah taman di pinggir sungai Han. Aku tahu dia selalu kesini untuk menggambar setiap hari sabtu. Aku menunggunya dari pagi dan sekarang telah pukul 11.30 KST tetapi dia belum datang. Kemana dia? Baru saja aku berpikiran untuk pergi saat aku melihatnya dipintu taman dengan seorang pria. Aku mengenal pria itu. Park Min-Woo. Dia adalah sainganku di dunia musik. Sedang apa dia dengan gadisku? Apa yang dia lakukan?

Min-ah tampak senang saat bersama Min-Woo. Apa gadis itu telah melupakan janjinya padaku? Aku terus mengikuti mereka. Kini kami sedang ada di salah satu restoran mewah di Seoul. Aku mendengar semua percakapan mereka. Aku juga mendengar lamaran Min-Woo pada gadisku. Hatiku hancur dan aku merasa aku harus berhenti sekarang sampai aku mendengar jawaban gadis itu.

gomawo[5] oppa[6] tapi aku tidak bisa. Bukankah aku sudah pernah bilang padamu bahwa aku sedang menunggu seseorang? Aku akan terus menunggunya hingga ia menemuiku lagi.”

“tapi, sampai kapan kau akan menunggunya? Bahkan 3 tahun dia melanggar janjinya.”

“sampai aku merasa lelah menunggunya. Aku akan terus menunggunya.”

“baiklah, aku permisi ke toilet dulu.” Aku mengawasi kemana Min-Woo pergi tanpa beranjak dari tempatku sekarang. Aku tahu dia sedang merencanakan hal yang buruk untuk gadisku. Aku mengenalnya. Dia bukan tipe orang yang baik jika keinginannya tidak terpenuhi. Dan bdugaanku benar. Dia memasukan sebuah serbuk ke dalam minuman yang baru saja ia pesan untuk gadisku. Yang benar saja! Apa dia ingin membunuh gadisku?! Aku tidak boleh membiarkannya. Aku tinggalkan beberapa ratus ribu won di atas mejaku dan segera menarik Min-Ah keluar dari tempat ini. Aku tahu dia kebingungan dengan apa yang terjadi padanya saat ini namun aku mengabaikannya. Aku memaksanya masuk ke mobilku dan membawanya ke apartemenku. Setidaknya dia aman disana. Dia terus menatapku dengan tatapan penuh tanya dan keterkejutan yang tergambar sangat jelas diwajahnya.

“Kau harus jelaskan maksud semua ini tuan.  Kau mau membawaku kemana?” aku terus menyetir tanpa menjawab pertanyaannya. “hei! Aku bertanya padamu!” dia menggerakan tangannya di samping wajahku dan ku pinggirkan mobilku. Aku menarik nafas panjang dan membuangnya lagi. Kutarik lengannya dan membawanya kedalam pelukanku. Dia meronta berusaha melepaskan pelukanku namun, aku semakin mempererat pelukanku terhadapnya.

nan bogoshipeodo. Jeongmal bogosipeoyo[7] Min.” Kata-kata itu terlontar dengan lancarnya dari mulutku. Dia mulai menyadari siapa diriku.

“Hae-Jun~a. Benarkah ini kau?” tanyanya masih dalam dekapanku. Aku masih diam tak menjawab pertanyaannya. “setidaknya kau lepaskan pelukanmu jika kau tidak ingin menjawabnya. Aku mulai kehabisan nafas. Kau mau membunuhku hah?” aku melepaskan pelukanku dan menatap lekat wajahnya. Dia balas menatapku namun tatapnnya seolah mengisyaratkan dia akan menerkamku.

“Yak! Neo[8]! Kau melanggaar janjimu! Kau membuatku menunggu selama 10 tahun dari yang seharusnya aku hanya perlu menunggumu selama 7 tahun! Coba hitung berapa umurku sekarang! 24! Kau seenaknya muncul dihadapanku dan membawaku lari. Apa maksudmu hah? Apa yang kau mau Shin Hae-Jun ssi?” dia melontarkan semua kekecewaannya sambil memukulku. Kuraih lengannya dan aku menciumnya lembut.

mianhae saranga[9] matanya membulat. Aku tahu dia kaget. “aku akan menjelaskan semuanya jika aku rasa kau aman. Tenanglah dan duduk dengan manis dikursimu.” Aku menarik seat belt yang tadi dilepaskannya dan memasangkannya. Aku menjelaskan semuanya di apartemenku. Untunglah noona gila itu tidak sedang dirumah. Dia akan merusak semuanya jika ia ada dirumah. Aku juga menjelaskan alasan kenapa aku tidak menemuinya sesuai janjiku.

“lalu setelah ini apa yang akan kau lakukan? Apa akan terus menguntitku? Apa kau tahu, bagaimana rasanya menunggu? Kau bisa melihatku sedangkan aku tidak menyadarinya.”

“tidak. Aku tidak akan menguntitmu lagi. Kau milikku sekarang. Bukankah aku berjanji akan menikahimu saat aku menemuimu?”

“Lupakan janji bodohmu itu Shin Hae-Jun. Kau telah melanggarnya. Aku lelah.”

“aku serius nona Choi. Aku akan menikahimu. Bahkan malam ini juga jika kau mau. Aku akan kerumahmu dan memintamu pada orang tuamu sekarang juga.”

“yak! Apa kau gila hah! Shireo[10] aku tidak mau menikah dengan mu.”

mwo?[11]apa kau telah melupakan janjimu? Apa kau sudah tidak mencintaiku?”

“kapan aku pernah bilang bahwa aku mencintaimu? Lagipula aku hanya berjanji untuk menunggumu bukan bersedia untuk dinikahi olehmu.”

“benarkah? kalau begitu siapa pria yang kau cintai? Apa kau akan menikah dengannya? Apa dia bisa diandalkan? Apa dia juga mencintaimu seperti aku mencintaimu? Jika iya, aku akan melepaskanmu” aku menahan air mataku.pipiku terasa panas. Hatiku hancur mendengar penolakannya. Aku akan merelakannya jika dia mencintai pria lain. Aku tidak berhak menghambatnya lagi. Cukup dengan janji bodoh 10 tahun itu saja.

“semudah itukah kau melepaskanku? Apa yang kau rencanakan untukku? Membunuh pria yang aku cintai? Atau kau akan mencoba membunuhku seperti yang dilakukan Park Min-Woo?”

“tidak. Aku tidak akan melakukan kedua hal itu. Aku akan melepaskanmu tanpa embel-embel apapun.”

“semudah itu? Dasar bodoh! Kau harus bertanggung jawab atas semuanya! Bertanggung jawab karena kau membuatku seperti orang bodoh. Karena kau hampir saja membuatku menjadi perawan tua. Selesaikan semua kontrakmu dan nikahi aku.” Aku memeluknya lagi. Dia menangis dalam pelukanku. Aku tahu dia ada hanya untukku.

***

            Aku telah menyelesaikan semua kontrakku dengan lancar. Aku sudah berhenti menjadi penyanyi dan memutuskan untuk bekerja di perusahaan ayahku. Setidaknya tidak akan ada lagi yang akan mengganggu hidupku dan hidup Min-ah nantinya.

Dadaku berdegup tak teratur. Tidak pernah aku merasa segugup ini sebelumnya. Tidak sampai hari ini. Sampai akhirnya aku berdiri disini. Di depan altar menunggu gadisku dengan sabar. Aku membayangkan bagaimana rupa gadisku dalam balutan gaun putih itu. Aku yakin kecantikannya akan bertambah berkali-kali lipat dari hari biasanya. Aku bisa mati jika aku berada dalam keadaan seperti ini terus. Dan tebakanku tepat sekali. Dia sangat cantik. Lebih cantik dari yang kubayangkan tadi. Gaun itu terasa sangat pas ditubuhnya yang mungil. Rambutnya disanggul longgar dengan mahkota perak kecil yang menyangganya. Tangan kanannya menggenggam sebuket bunga lily putih favoritenya. Make up tipis berwarna pastel tersapu di wajahnya. Bibir mungilnya dilapisi lipstick berwarna pink membuatnya semakin menawan. Kini ia tepat berada dihadapanku. Ayahnya mengulurkan tangan kiri gadisku dan aku menyambutnya dengan canggung. Aku tidak bisa mengontrol jantungku saat ini. Saat lengan kami bertaut dia mendekatkan wajahnya kewajahku dan terkekeh.

“aku tidak menyangka kau sama gugupnya denganku saat ini dan itu menyenangkan. Aku menyukainya.” Dia terkekeh lagi setelah puas meledekku. Pipiku terasa panas saat ini. Aku menarik nafas panjang dan mencoba mengendalikan emosiku. Aku mengucapkan janji pernikahanku dengan lancar, begitu juga dengan Min-Ah. Lega rasanya menyelesaikan serangkaian upacara pernikahan yang menegangkan ini.

***

            Badanku terasa sangat pegal. Aku lelah sekali hari ini. Rasanya ingin sekali aku kabur dan membawa istriku lari tadi pagi. Berjam-jam aku berdiri dan tersenyum seperti orang bodoh. Aku heran Min-Ah bisa dengan sabar melayani mereka. Saat aku ingin keluar tak sengaja aku menangkap bayangannya yang sedang berdiri di balkon kamar kami. Memandangi citylight yang terlihat sangat cantik dari sini. Aku kira dia telah tertidur karena kelelahan tadi. Diam-diam aku mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Dia sedikit terkejut saat kulingkarkan lenganku di pinggangnya. Ku sandarkan daguku di bahunya, menghirup aroma shampo dari rambut ikalnya yang tergerai sempurna.

saranghae[12]..” tanpa sadar aku membisikan kata itu ditelinganya.

nado saranghae oppa[13]” dia mebalas ucapanku tanpa membalik tubuhnya. Semburat merah menghiasi pipinya, aku bisa melihatnya dengan jelas. Ku balikkan tubuhnya sehingga kini ia menghadapku. Kuraih wajahnya dan kutatap matanya tepat di manik matanya.

“mengapa kau terus menungguku selama itu?” pertanyaan yang sudah lama ingin aku tanyakan padanya. “mengapa kau terus menungguku seperti orang bodoh? Apa kau benar-benar berharap aku akan datang dan menemuimu lagi?” dia menganggukan kepalanya dan tersenyum padaku.

“entahlah oppa. Aku sendiri bingung mengapa aku bersedia menunggumu selama itu. Perasaanku mengatakan aku harus menunggumu.” Dia mengedikkan bahunya santai.

“lalu, kalau aku tidak kembali bagaimana?”

“aku selalu yakin pada akhirnya kau akan kembali padaku sesulit apapun. Dan pada kenyataannya kau memang kembali padaku kan? Kau fikir kau bisa menghabiskan sisa hidupmu tanpa aku? Tentu saja jawabannya tidak. Shin Hae-Jun tak akan bisa bernafas tanpa Choi Min-Ah kan? Ingatkah kau, kau selalu mengatakannya saat kita masih kecil dulu.” Dia terkekeh dan meraih tanganku yang ada pipinya. Aku hanya bisa mematung mendengar semua jawabannya yang memang benar. Aku tak akan pernah bisa hidup tanpanya. Dia oxigenku. Kuraih tubuhnya kedalam pelukkanku.

mianhae[14]. Mulai sekarang aku milikmu dan kau milikku. Kita akan selalu begitu untuk seterusnya. Katakanlah jika kau lelah. Aku akan selalu meminjamkan bahuku untukmu. Menangislah jika kau ingin menagis. Aku akan selalu memelukmu saat kau menangis. Aku harap kau bahagia hidup denganku. Aku harap aku bisa melihat tawa dan senyummu setiap hari. Aku tidak bisa berjanji aku akan selalu berada disampingmu karena aku tidak tahu kapan tuhan akan mengambilku. Tapi aku bisa menjajikan cintaku untukmu Min-Ah~ya. Aku akan mencintaimu lebih dan lebih lagi setiap harinya.” Aku merasakan piyamaku basah. Apa dia menangis? Ku longgarkan pelukanku untuk melihat wajahnya. Kuhapus air mata yang membasahi mata dan pipinya. “aku juga berharap kau akan selalu sabar menungguku pulang setiap harinya. Aku berharap kau selalu ada dirumah ini setiap aku pulang karena rumah ini tidak bisa kukatakan rumah tanpa ada kau didalamnya. Kau adalah rumahku. Tempat dimana aku akan selalu pulang. Alasanku untuk terus hidup. Arraseoyo yeobo[15]?” dia menganggukan kepalanya dan tetap terisak. Kuraih wajahnya dan aku menciumnya. Ciuman keduaku setelah ia resmi menjadi istriku. Haruskah aku menjelaskan kegembiraanku hari ini setelah 10 tahun kami berpisah? Terima kasih Tuhan kau telah menjaganya dengan sangat baik maka sekaranglah giliranku untuk menjaganya.

~End~


[1] Aku mohon

[2] mengerti

[3] Abang, pembicara laki-laki

[4] Kakak perempuan, pembicara laki-laki

[5] Terima kasih

[6] Abang, pembicara perempuan

[7] Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu

[8] kau

[9] Maaf kekasihku

[10] Tidak mau

[11] apa

[12] Aku mencintaimu

[13] Aku juga mencintaimu

[14] maaf

[15] Kau menegerti sayang