Category Archives: KyuMin Couple

• KyuMin Couple: 다시 사랑합니다 (Love again)

AUTHOR’S POV

            Cahaya matahari pagi menerobos masuk kesebuah kamar berukuran sedang yang di dominasi oleh warna putih dan soft pink melalui jendela kaca yang menjadi dinding sebelah timur dari ruangan tersebut. Nampak seorang gadis tengah menggeliat-geliatkan tubuhnya diatas kasur berwarna senada dengan ruangan itu. Ia menyibakkan selimut dan turun dari kasurnya. Dengan mata yang masih terpejam ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang terdapat di dalam ruangan itu. Ia membasuh mukanya masih dalam keadaan mata tertutup. Ia menggosok giginya dengan malas. Setelah selesai ia keluar dari ruangan itu menuju dapur yang berada di lantai bawah. Dia menghempaskan tubuh mungilnya sedikit kasar di sebuah bangku yang terletak di tengah dapur.

“Kau sudah bangun sleeping beauty?” seorang pemuda mengacak-acak rambut gadis itu serta mencubit pipi tembamnya.

“oppa, kenapa kau terus memanggilku dengan sebutan sleeping beauty sedangkan kau tahu satu bulan terakhir ini aku tidak bisa tidur cepat karena guru gendut itu terus memberiku tugas. Kau tidak lihat lingkaran hitam disekitar mataku ini hah?” gadis itu menunjuk daerah sekitar matanya yang tampak menghitam karena kurang tidur.

“baiklah aku tidak akan memanggilmu sleeping beauty lagi. Coba sini aku lihat wajahmu.” Pemuda itu menarik dagu gadis itu dan memperhatikan wajahnya. “sepertinya tidak separah yang kau bayangkan Min-A~ya. Kau masih adikku yang paling cantik. Lingkaran hitam di sekitar matamu tak mengurangi sedikitpun kadar kecantikanmu dimataku.” Min-A tampak salah tingkah mendengar pujian-pujian yang dilontarkan kakaknya terhadap dirinya. “ini. Rona merah apa ini Min-A~ya.” Pemuda itu tertawa girang mendapati semburat merah dipipi adiknya.

“oppa!” Min-A memukul lengan pemuda itu dan mengerucutkan bibirnya.

“aish, neomu kyeopchi Min-A~ya.” Pemuda itu mencubit pipi adiknya dengan gemas.

“eomma, geu namja neomu nappeun eomma!” Min-A berteriak minta dukungan kepada ibunya yang tengah membersihkan peralatan memasak.

“Min-Ho~ya sudahlah jangan goda adikmu terus! Makanlah sarapanmu Min-Ho~ya dan kau juga Min-A~ya. Sudah jangan pedulikan kakakmu itu.” Ibu mereka duduk di kursi di seberang kursi yang diduduki oleh Min-Ho dan memukul punggung tangan anak lelakinya pelan.

“Min-A~ya apa malam ini kau ada acara?” tanya ibunya.

“ani. Waegeure eomma?” Min-A menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menyantap sarapannya.

“ah, aniya. Nanti malam keluarga Cho akan makan malam disini.” Jawab ibunya. Min-A hanya mengangguk-anggukan kepalalnya.

“cepatlah habiskan makananmu nanti kau bisa telat ke kampus.” Min-Ho menegur adiknya yang makan dengan lambat.

***

            “Min-A~ya kenapa kau selalu memakai kacamata sebesar itu kekampus? Kau tidak perlu menyembunyikan wajahmu. Kau sangat cantik Min-A~ya. Jika matamu bermasalah pakailan lensa kontak atau setidaknya kaca mata yang ukurannya lebih kecil dari yang kau kenakan saat ini.” Min-Ho mengomentari penampilan adiknya yang selalu tampak sederhana dan berantakan.

“tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin terlihat mencolok di kampus. Aku suka saat mereka mengabaikan aku. Aku jadi tidak perlu merasa sungkan dengan apa yang akan aku lakukan. Aku juga bisa menyendiri. Kau tahu sendirikan oppa aku tidak suka keramaian.” Min-A tampak tak peduli dengan komentaran Min-Ho. Dia hanya menjawab sekenanya.

“mana ada namja yang akan mendekatimu jika kau berdandan seperti ini.” Min-Ho hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju mobilnya.

“aku belum membutuhkan seorang namja saat ini karena aku masih memilikimu sebagai kakakku. Kau masih mampu menjagaku dengan baik. nanti saat kau sudah menikah barulah aku mencari namja yang bisa ku andalkan sebagai tempatku bergantung.” Min-A menjawab penyataan kakaknya itu dengan senyuman lebar diwajahnya. Kedua sudut bibir Min-Ho juga terangkat saat mendengarnya, menyetujui pernyataan adik perempuannya itu. Ia membuka pintu mobil dan menyuruh adiknya untuk segera masuk. Min-A pun duduk di dalam mesin berjalan itu. Min-Ho melajukan mobilnya menuju kampus Min-A yang juga kampusnya itu.

***

Siang itu Min-A tengah asik mengobrol dengan kedua sahabatnya saat tiba-tiba ada kerumunan gadis yang berteriak sambil memperhatikan seorang pemuda yang berjalan dengan angkuhnya di koridor.

“Cih! Namja sombong begitu saja digemari. Tidak masuk akal!” Min-A mengumpat saat melihatnya.

“tapi dia tampan Min-A~ya.” Bela Min-Young sahabatnya.

“Min-Ho oppa masih jauh lebih tampan darinya. Oppaku itu juga tidak sombong sepertinya. Memang dasar anak setan! Dari dulu tidak berubah.” Min-A menyangkal pembelaan dari sahabatnya itu.

“Jadi bagaimana rasanya mengenalnya Min-A~ya? Sejauh ini kaulah gadis yang paling dekat dengannya meski hanya kami dan Min-Ho oppa yang tau.” Tanya Hae-Ri penuh minat.

“Menyebalkan!” Min-A menjawabnya datar dengan tampang yang menyiratkan rasa tidak sukanya.

“jangan terlalu membencinya nanti kau malah mencintainya lebih dari gadis-gadis itu mencintainya.” Min-Young menunjuk sekumpulan gadis yang tadi berteriak yang kini masih terpaku menatapi punggung pemuda itu yang terus menjauh.

“berfantasilah sesukamu Youngie~ya. Tapi perlu kau catat bahwa hal tersebut tidak akan pernah terjadi di dunia nyata. Cinta tak ada diurutan manapun dalam catatan rencana hidupku.” Min-A masih kukuh dengan pendiriannya bahwa ia tak akan pernah mencintai pemuda itu.

“aku harap kalian akan menikah. Aku rasa kalian cocok. Kalian sama keras kepalanya. Sama dinginnya terhadap lawan jenis. Jadi akan menjadi seru jika kalian hidup bersama. Aku jadi tak bisa membayangkan bagaimana anak kalian nantinya. Appanya tampan dan eommanya cantik tapi memiliki sifat keras kepala yang sama. Sayang sekali kau memakai kacamata ini, kau jadi seperti itik buruk rupa.” Min-A memukul kepala Hae-Ri dengan literatur yang ada di pangkuannya membuyarkan fantasi-fantasi temannya itu.

“hal itu tidak akan pernah terjadi. Wanita bodoh mana yang akan menikahinya? Melihat tingkahnya saja membuatku ingin muntah dan melemparnya dengan batu kali.” Min-A beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menjauhi teman-temannya itu.

“hey! Choi Min-A kau mau kemana?” Min-Young meneriaki Min-A sambil mengejar Min-A.

“ke kantin. Aku lapar.” Min-A menjawab tanpa membalikkan badannya sedikitpun.

“tunggu aku!” Hae-Ri berlari-lari kecil menyusul kedua temannya yang telah mendahuluinya itu.

***

“Min-A coba kau pakai ini.” Min-Ho menyodorkan sebuah kotak berisi gaun pada adikya.

“kenapa aku harus memakai ini? Aku rasa aku cukup memakai kemeja dan celana jeansku saja oppa.” Min-A mengeluarkan gaun berwarna peach berbahan chiffon tanpa lengan itu dari kotaknya.

“kenapa? Kau tidak suka? Aku membelinya untukmu dan karena nanti malam keluarga Cho akan makan malam disini aku rasa aku tidak perlu menyimpannya terlalu lama sampai kau lulus.”

“aniyo oppa. Aku suka. Aku sangat menyukainya tapi ini terkesan terlalu formal. Tapi baiklah aku akan memakainya untukmu. Gomawo oppa.” Min-A mengecup pipi kakaknya itu lalu berjalan menuju kamarnya meninggalkan Min-Ho di ruang keluarga. Min-Ho tersenyum kepada ibunya yang sedari tadi menyaksikan adegan itu dan wanita paruh baya itu mengacungkan jempolnya ke arah pemuda itu.

***

Min-A melangkahkan kakinya keluar kamar. Ia tampak cantik dalam balutan gaun tersebut. Kulitnya yang putih susu terlihat sangat kontras dengan warna gaunnya. Kali ini dia tidak memakai kacamata super besarnya. Wajahnya dipoles dengan make-up berwarna natural. Rambutnya disanggul longgar yang mempertesgas leher jenjangnya.

“ah mengapa anak appa terlihat begitu cantik?” ayahnya memeluk gadis itu dan mengecup puncak kepala gadis itu.

“neomu yeppoda Min-A~ya. Kalau kau bukan adikku kau pasti sudah kunikahi.” Min-Ho menggoda Min-A yang membuat pipi Min-A kembali merona.

“Kajja. Keluarga Cho sudah menunggu di belakang.” Ayah Min-A berjalan mendahului kakak-beradik itu dan Min-Ho menggandeng tangan adiknya menuntun gadis itu menuju meja yang di set khusus di halaman belakang.

“oppa, kenapa aku merasa seperti akan berpisah denganmu malam ini?” Min-A berbisik kepda Min-Ho saat mereka duduk di meja makan sambil menggenggam erat lengan jas yang dikenakan Min-Ho. Tiba-tiba Tuan Cho berdeham keras dan Min-A membenarkan kembali posisi duduknya.

“jadi kapan pertunangannya akan dilaksanakan?” tuan Cho mulai bicara.

“kapanpun kami siap.” Jawab Ayah Min-A dan berhasil membuat Min-A kebingungan. Banyak pertanyaan bermunculan di otakknya. Apakah Min-Ho akan di jodohkan dengan Ah-Ra yang merupakan anak tertua dari keluarga Cho? Kenapa kakaknya tidak memberi tahukan hal itu kepada dirinya.

“Apakah Min-Ho oppa yang akan bertunangan dengan Ah-Ra eonni?” Min-A memberanikan diri menyuarakan pikirannya dan bertanya dengan tampang polosnya.

“bukan sayang tapi kau. Kau yang akan bertunangan dengan Kyuhyun.” Seketika mata Min-A membulat mendengar jawaban dari Nyonya Cho.

“MWOYA? Nongdamhajima! Ini sama sekali tidak lucu.” Pekik Min-A yang kaget mendengar dirinya akan bertunangan dengan Kyuhyun. Pemuda yang sangat dibencinya. Pemuda yang siang tadi ia maki habis-habisan.

“kami tidak bercanda sayang. Kami telah merancang perjodohan ini sejak kalian masih kecil. Kami rasa kalian sudah cukup matang untuk menikah jadi kami mengadakan acara makan malam ini.” Ibu Min-A mengelus-elus punggung anak gadisnya itu sambil memberi gadis itu pengertian.

“tidak eomma, aku tidak mau.” Gadis itu menggeleng dan mengalihkan pandangannya pada Min-Ho. “oppa jebal!” ia meminta bantuan pada Min-Ho yang hanya dibalas kedikan bahu.

“mau tidak mau kau harus menerimanya Min-A” kini ayahnyalah yang angkat bicara. Min-A menarik nafas panjang berusaha menahan air matanya. Ia bangkit dan menatap orang-orang di tempat itu dengan penuh amarah lalu pergi meninggalkan tempat itu tanpa pamit.

“Min-A~ya! Hey! Choi Min-A!” ibunya berusaha mengejar anak gadisnya itu namun dicegah oleh Min-Ho.

“biarkan saja eomma, dia butuh ruang untuk sendiri.” Ucap Min-Ho menenangkan ibunya.

“ini salahmu Min-Ho~ya yang selalu memanjakannya. Kau lihat, adik perempuanmu itu bahkan sudah tidak memikirkan kehidupan pribadinya lagi. Berhentilah menggodanya, memanjakannya dan membuatnya terlalu bergantung padamu. Pergi dan berilah adikmu itu pengertian.” Min-Ho bangun dan membungkuk pada orang-orang yang tersisa. Mereka menganggukan kepala mereka kecuali Kyuhyun yang tampak tak berminat melihat adegan mengharukan ini di depan matanya. Ia malah menyilangkan kedua tangannya di dadanya.

***

“Min-A~ya, bisakah kau buka pintunya? Ini aku.” Min-Ho mengetuk pintu kamar adiknya. “aku tahu kau marah, kau kecewa tapi apa yang bisa aku perbuat untuk menghentikannya? Kau tahu ayah bukan orang yang bisa di bantah. Hal ini juga tidak masuk dalam nalarku. Aku juga tidak tega melihatmu berada dalam keadaan seperti ini tapi aku bisa apa?” Min-Ho mencoba memberi pengertian pada adiknya itu.

“aku tahu oppa. Tapi yang membuatku kecewa bukanlah masalah perjodohannya tapi kenapa harus Kyuhyun yang di jodohkan denganku? Kau tahu seberapa besar aku membencinya kan oppa. Aku tidak akan melakukan hal yang tidak sopan seperti ini jika yang dijodohkan denganku bukan Kyuhyun. Aku akan menurut walaupun besok aku harus menikah asalkan bukan Kyuhyun yang akan menjadi pasanganku.” Min-A menjelaskan kekecewaannya pada Min-Ho sambil terisak tanpa membuka pintunya. Min-Ho hanya bisa menetuk-ngetuk pintu kamar adiknya tanpa bisa berkata apa-apa. Dia tahu persis seberapa besar rasa benci adiknya itu terhadap Kyuhyun sejak beberapa tahun lalu. Tanpa disadari Min-Ho sang objek sudah berada di belakangnya dengan eksspresi yang tak dapat dibaca.

“oh, kau!” Min-Ho sedikit kaget saat mendapati Kyuhyun tengah berdiri dibelakangnya.

“pelankan suaramu hyung!” Kyuhyun menyuruh Min-Ho untuk tidak terlalu keras berbicara padanya.

“Min-A~ya. Tenangkanlah dirimu. Jika kau merasa cukup tenang keluarlah. Kau bisa mengandalkan aku. Aku menyayangimu.” Min-Ho kembali mengetuk pintu kamar adiknya tapi kali ini tanpa harapan adiknya akan membuka pintu kamarnya. Ia berjalan menuju kamarnya sendiri, mengajak Kyuhyun berbicara.

Dari kamar Min-Ho bisa terlihat jelas apa yang dilakukan Min-A di dalam kamarnya. Kamar mereka memang bersebrangan dan kaca yang menjadi tembok kamar memudahkan kedua pemuda itu melihat keadaan Min-A ditambah gadis itu tidak pernah menutup tirai kamarnya. Gadis itu kini tengah meringkuk disamping kasurnya memeluk sebuah boneka teddy bear berukuran besar. Tubuhnya bergetar tanda ia sedang menangis.

“separah itukah?” tanya Kyuhyun datar.

“lebih parah dari yang terlihat. Ia bisa mempertahankan posisi itu sampai ia merasa lapar. Dan dia bisa bertahan lebih dari 3 hari tanpa makan dan minum. Kau bisa membayangkannyakan?” Min-Ho tak kalah datarnya dari kyuhyun. Mereka masih memperhatikan Min-A.

“lalu apa aku salah? Apa aku terlalu egois?” kini suara kyuhyun mulai sedikit pecah. Ia tampak tak dapat mempertahankan pertahanan dirinya yang susah payah ia bangun.

“tidak juga. Setidaknya gadis itulah yang akan kau jaga. Gadis seperti itulah yang akan menggantungkan hidupnya padamu. Apa kau sanggup? Gadis itu begitu rapuh. Walaupun sikapnya tampak cuek dan dingin tapi jauh di dalam hatinya ia begitu rapuh.”

“aku sudah meninjaunya ribuan kali dan jawabannya selalu sama. Aku akan mengambil semua resikonya. Apapun yang terjadi.” Kyuhyun mengatupkan grahamnya, memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.

“menginaplah disini. Kau bisa terus memantaunya dari sini. Aku akan tidur di kamar lain.” Min-Ho menepuk bahu Kyuhyun dan menawarkan kamarnya untuk ditempati oleh calon adik iparnya tersebut.

“tidak perlu. Kau jauh lebih ahli dibidang itu dibanding aku. Aku akan melakukannya dengan caraku sendiri.” Kyuhyun berbalik dan meninggalkan kamar Min-Ho tanpa menengok lagi kebelakang ketempat Min-A berada. Pertahanan dirinya kini sudah mulai kembali.

***

Tiga hari berlalu sejak kejadian malam itu. Gadis itu keluar dari kamarnya, berjalan terhuyung dan sering kali ia terjatuh. Matanya bengkak dan bibirnya penuh luka. Bibirnya pecah-pecah karena kering, terhitung sudah tiga hari ia tak menenggak cairan apapun jadi wajar saja keadaannya begitu parah. Baju yang ia kenakan masih baju yang sama yang membedakannya adalah bentuknya, bajunya sama berantakannya dengan rambut cokelatnya.

Tak ada orang di rumah besar ini. Min-Ho sudah pasti pergi kekampus karena ia harus menyerahkan skripsinya hari ini. Ayahnya ke kantor dan ibunya, entahlah kemana perginya wanita itu. Min-A membuka kulkas dan menenggak air dingin langsung dari botolnya. Ia kembali kekamarnya. Ia memutuskan untuk mandi dan pergi kekampus. Setidaknya disana ia bisa terhibur oleh kedua temannya dan Ji-Woo adik kelasnya. Beruntung hari ini jadwal kuliahnya tidak dari pagi jadi dia tidak terlambat masuk kelas. Ia berdandan seperti biasanya dan diperparah dengan keadaannya yang sangat berantakan setelah tiga hari ia menangis tanpa henti. Ia berjalan menuju halte, kakinya masih belum sanggup menopang berat tubuhnya jadi sering kali ia jatuh. Kali ini dia terjatuh di depan perpustakaan beruntung Ji-Woo menemukannya

“noona~ya gwaenchana?” Ji-Woo membantu Min-A berdiri dan merapikan rambut gadis itu yang berantakan. Dia memapah Min-A ke bangku taman yang ada di sebrang perpustakaan. Dia juga menghubungi Min-Young dan Hae-Ri yang langsung menemui mereka.

“Min-A~ya kau kenapa? Kau sangat menyedihkan saat ini. Apa sesuatu terjadi padamu?” Hae-Ri terlihat sangat menghawatirkan Min-A tapi gadis yang di tanya hanya mengelengkan kepalanya.

“tiga hari kau menghilang dan sekarang kau muncul di hadapan kami dengan penampilan seperti ini. Apa yang terjadi? Jangan berbohong pada kami. Kami tahu sesuatu telah terjadi karena kami melihat Min-Ho oppa tidak kalah berantakannya darimu.” Min-Young mulai menyelidik. Dia sudah sangat hafal dengan sifat gadis ini lebih dari teman-temannya yang lain karena mereka bersahabat semenjak mereka masih duduk di bangku kelas 2 SMA.

“Aku. Aku di jodohkan.” Suaranya parau. Air mata mulai memebasahi kedua belah pipi gadis itu. “dengan Kyuhyun.” Dia melanjutkan kalimatnya dan tangisnya kembali pecah. Tubuhnya bergetar. Ketiga temannya itu langsung memeluk dan menenangkan gadis itu. Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah memperhatikan mereka dari balik pohon maple tak jauh dari tempat mereka berkumpul.

***

Min-A kembali kerumahnya menjelang makan malam. Dia diantar pulang oleh Ji-Woo.

“noona kau yakin kau bisa masuk sendiri ke dalam? Kau tidak akan terjatuh seperti tadi?” Ji-Woo memegangi tangan Min-A membantunya keluar dari dalam mobil.

“gwaenchana Ji-Woo~a. Kau membuatku terlihat seperti nenek-nenek.” Min-A tersenyum pada Ji-Woo. “Gomawo Ji-Woo~a kau telah membantuku seharian ini.” Min-A membungkukkan badannya.

“Cheonmaneyo noona.” Ji-Woo juga membungkukkan badannya.

“annyeongi gaseyo.” Min-A melambaikan tangannya dan berjalan memasuki rumahnya.

“jamkkamanyo noona!” Ji-Woo menarik tangan Min-A.

“wae?” tanya Min-A.

“Kau yakin?” tampak sekali Ji-Woo mengkhawatirkan Min-A yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri itu. Min-A hanya mengangguk meng‘iya’kan. Ji-Woo memeluk tubuh Min-A. “jaljayo noona~ya” Ji-Woo melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Min-A.

“aku baik-baik saja saengie~ya.” Min-A mengacak-acak rambut Ji-Woo dan berjalan masuk ke rumahnya sedangkan Ji-Woo masih berdiri di tempatnya memperhatikan Min-A dengan rasa takut kalau-kalau gadis itu akan jatuh lagi.

***

“Min-A ya apa kau sudah makan?” Nyonya Choi menghampiri Min-A dan mengelus punggung gadis itu dengan penuh kasih sayang namun Min-A segera menepisnya. Gadis itu dengan susah payah menaiki tangga tanpa menghiraukan bantuan-bantuan yang diberikan oleh keluarganya. Ia menghempaskan tubuhnya di ranjang pribadinya, membenamkan wajahnya di bantal. Tanpa di sadarinya Min-Ho masuk ke kamarnya. Min-Ho mengelus-elus rambut adiknya itu lembut.

“kau sudah makan Min-A~ya?” Min-Ho terus menelus-elus rambut gadis itu tanpa mendapat respon dari objek yang di sentuhnya itu. “kalau aku seorang wanita mungkin aku sudah menawarkan diri untuk menggantikan posisimu tapi aku terlahir sebagai laki-laki jadi aku tidak bisa melakukan hal itu. Menikah dengannya bukan suatu hal yang terlalu buruk kurasa.” Min-Ho menghentikan aktifitasnya dan kini ia membalikan tubuh adiknya dan mendudukannya sehingga kini mereka saling berhadapan. “percayalah Min-A bahkan dia tidak akan mampu menyakitimu lagi. Aku akan membunuhnya jika ia berani menyakitimu seujung rambutpun. Ikuti saja ritme permainan para orang tua itu sampai kalian menyelesaikan upacara pernikahan kalian. Setelah itu mereka tidak bisa ikut campur lagi dengan hidup kalian. Kau bisa berbuat semuanya semau hatimu. Bagaimana?” Min-Ho berusaha meyakinkan adiknya untuk menerima saja perjodohan ini.

“kau yakin dengan ucapanmu itu oppa?” Min-A mulai membuka mulutnya. Tampangnya masih datar.

“kau bersedia mencobanya?” Min-Ho balik bertanya.

“entahlah oppa.” Min-A menedikkan bahunya. Ia tidak yakin ide kakaknya ini akan berhasil. Tapi setidaknya ia bisa mencoba. Mungkin setelah beberapa bulan menikah ia bisa mengajukan perceraian dan ia berfikir Kyuhyun juga pasti tidak akan menolaknya.

“kau pasti lapar. Ayo kita makan. Eomma sudah membuatkanmu makanan yang sangat enak.” Min-Ho menarik lengan adiknya itu memaksa agar gadis itu segera turun dari ranjangnya.

***

Min-A tengah asik menyeruput kopi dinginnya sambil sesekali membolak-balikan literaturnya. Setidaknya 90% hidupnya telah kembali normal. Ia kembali ke kehidupannya lagi seperti biasa yang berubah hanyalah bagaimana cara ia menghabiskan banyak waktu untuk tek-tek-bengek keperluan pernikahannya. Ia kira ia bisa duduk manis saja dirumah menyaksikan orang tuanya dan orang tua Kyuhyun menyiapkan pernikahan yang telah ia buat skenarionya ini. Ia benci dengan hal ini. Ia merasa hal ini sangat merepotkan, bahkan lebih merepotkan daripada tugas-tugas kuliahnya yang menumpuk seperti gunung. Ia harus keluar masuk banyak toko, menjajal gaun pernikahan, memilih undangan, EO dan masih banyak kegiatan lainnya yang tak pernah ia bayangkan akan sangat menyusahkan dirinya itu. Dan sekarang ia tengah menunggu calon suaminya itu untuk membeli cincin.

“tumben kau tidak memakai kacamata besarmu itu Min-A~ya. Apa kau berpikir untuk memikat pemuda yang ada di sekitar sini dengan harapan pernikahan ini akan batal karena kau berselingkuh?” Kyuhyun datang masih dengaan sikap angkuhnya. Menghempaskan diri di bangku di depan bangku Min-A.

“banmal hajima! Dan sepertinya itu ide bagus. Aku melihat ada pemuda tampan di pojok sana.” Min-A menunjuk seorang pemuda berwajah tampan yang duduk di pojok toko itu dengan dagunya.

“ish kau ini benar-benar menguji kesabaran orang ya. Kau ini buta atau apa. Kau berhadapan dengan calon suamimu tapi kau malah memuji pria lain!” Kyuhyun menggerutu kesal dan menarik tangan gadis itu keluar dari toko.

“Hey! Siapa yang sudi menikah denganmu! Aku melakukannya dengan terpaksa. Jangan kira aku akan memaafkanmu tuan Cho!” gadis itu berusaha melepaskan genggaman tangan Kyuhyun tapi tenaga pria kurus itu lebih besar dari tenaganya.

***

“yang mana yang kau sukai? Pilihlah salah satu cincin itu jangan hanya diam saja. Apa aku perlu membelikanmu satu toko hah?” Kyuhyun mulai tak sabar dengan gadis itu karena sejak satu jam yang lalu gadis itu hanya diam menatap benda-benda berkilauan di depan matanya enggan. Dia asyik membaca literaturnya dan memasang earphone di kedua telinganya bahkan dapat diketahui secara jelas gadis ini tidak mendengar protes dari Kyuhyun. Kyuhyun mencabut earphone yang terpasang di telinga gadis itu dan menatap gadis itu tajam. “jadi yang mana yang kau pilih ‘Cho Min-A’?” Kyuhyun menekankan beberapa kata terakhir di kalimatnya tersebut.

“yang bersemangat menikahkan kau bukan aku jadi pilih saja sesukamu. Lagipula kau yakin setelah kita menikah nanti aku akan sudi memakainya? Dan. Jangan pernah mengganti nama keluargaku seenaknya. Aku Choi min-A. Choi. Choi! Bukan Cho!” gadis itu menatap Kyuhyun tak kalah tajamnya.

“bukankah sama saja? Setelah menikah toh nama keluargamu akan berganti juga menjadi nama keluargaku bukan? Menjadi nyonya Cho. Jadi apa bedanya sekarang dengan nanti? Aku rasa tidak ada bedanya. Yang membedakan hanyalah sekarang kau belum resmi menyandang nama itu. Nah, cepat pilih! Aku sudah muak berada disini.” Kyuhyun mencondongkan tubuhnya kearah Min-A, mendekatkan wajahnya hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa senti saja, sedangkan kedua tangannya berada di dalam saku celana jeansnya. Min-A menjauhkan tubuh dan wajahnya hingga ia hampir terjatuh namun dengan sigap kyuhyun menarik lengan gadis itu.

“aku tidak peduli. Pokoknya aku tidak suka kau mengubah namaku sembarangan! Jangan berlagak seperti kita benar-benar akan menikah!” Min-A mendorong tubuh Kyuhyun menjauh darinya.

“aku juga tidak peduli. Aku akan tetap memanggilmu seperti itu. Dan kau ini bodoh atau apa? Untuk apa kita ada disini hah? Bukankah kita disini untuk membeli cincin pernikahan? Dasar gadis bodoh!” Kyuhyun menyentil dahi gadis itu dan berjalan menuju sudut lain toko tersebut dan berbicara kepada salah satu penjaga tokonya. Min-A mendengus kesal dengan perlakuan pemuda tersebut terhadap dirinya. “Hey, gadis bodoh! Kemari kau!” Kyuhyun melambai-lambaikan tangannya menyuruh gadis itu menghampirinya.

“siapa yang kau sebut gadis bodoh itu bocah setan?”  Min-A mengacungkan literaturnya berniat menimpuk pemuda itu dengan buku super tebal di genggamannya itu.

“kau mau melemparku dengan buku itu? Lempar saja kalau kau mau membeli semua cincin di toko ini.” Min-A yang geram pergi begitu saja dari toko itu tanpa mempedulikan Kyuhyun yang terus memanggilnya untuk kembali ke toko itu. “aku pilih yang ini saja. Tulis nama Choi Min-A dibalik cincin itu dan Cho Kyuhyun di cincin yang satunya lagi.” Kyuhyun menunjuk sebuah cincin emas putih dengan tiga buah permata berwarna baby pink di atasnya.

“apa gadis tadi itu calon istrimu?” sang penjaga toko bertanya pada kyuhyun dan pemuda itu mengangguk. “dia cantik sekali. Kalian terlihat sangat serasi. Kau bisa mengambilnya seminggu lagi.” Lanjut sang penjaga toko. Kyuhyun hanya tersenyum sekedarnya dan membayar tagihannya.

***

“Min-A kenapa kau sendiri? Dimana Kyuhyun?” tanya ibu Min-A saat ia tak mendapati Kyuhyun bersama anak gadisnya itu.

“di neraka!” ibu Min-A hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar jawaban dari gadis itu sedangkan Min-A buru-buru pergi ke kamarnya.

Dia melempar tasnya ke sofa di dekat tempat tidurnya dan menghempaskan diri dengan kasar keatas tempat tidur. Dia berteriak sangat kencang melampiaskan amarahnya yang tertahan sejak di coffee shop tadi. Dia tak habis pikir dengan pemuda yang akan dinikahinya sebulan lagi itu. Dia heran mengapa manusia itu tidak menolak perjodohan ini saja padahal dia tahu bahwa pria itu sama sekali tidak mencintainya.

***

Sebulan berlalu sejak kejadian di toko cincin itu. Selama sebulan ia berusaha untuk tidak bertemu dengan Kyuhyun. Rasa kesalnya tidak berkurang bahkan sampai saat ini, saat dimana mau tidak mau gadis itu harus bertemu dengan Kyuhyun. Hari pernikahannya. Gadis itu terlihat sangat cantik dalam balutan gaun pengantin berwarna broken white dengan pita berwarna senada tersampir di bahu kanannya. Di bagian pinggangnya ada hiasan berwarna perak. Wajahnya hanya dipoles dengan make-up berwarna natural yang sangat kontras diatas kulit wajahnya yang putih susu. Rambutnya disanggul longgar dengan mahkota kecil berwarna perak sebagai penyangganya.

“Min-A~ya sepuluh menit lagi.” Min-Ho menepuk bahu kiri Min-A.

“haruskah oppa? Haruskah aku berjanji padanya? Pada orang yang bahkan tidak mencintaiku sama sekali. Aku takut oppa. Aku takut dia melakukan hal yang sama padaku. Aku takut patah hati lagi.” Min-A hampir menangis. Min-Ho merengkuh wajah gadis itu memberikan seulas senyuman yang setidaknya bisa mengurangi kesedihan gadis itu.

“gwaenchana. Banyak hal yang tidak kau ketahui Min-A~ya dan kau harus mencari tahu hal tersebut sendiri. Aku bahkan yakin 100% kau tidak mengenal dirimu sendiri atau kau membohongi dirimu sendiri. Seiring berjalannya waktu kau pasti akan mengerti hanya saja kau harus membuka hatimu lebar-lebar.” Min-Ho menarik lengan Min-A, membantunya berdiri dari kursi riasnya. “ayo, kau tidak mau terlambatkan?”

“oppa, apa maksud ucapanmu? Aku sungguh tak mengerti dengan ucapanmu tadi. Apa yang tak aku ketahui? Aku rasa aku juga mengenal diriku dengan baik. Jadi apa maksudmu oppa?” Min-A mengernyit tak mengerti apa yang dimaksudkan kakaknya itu.

“cari tahulah sendiri. Kau tak akan mengerti jika aku memberi tahumu sekarang dan kisah ini tak akan menjadi seru.” Min-Ho tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang rapi. Ia menarik Min-A untuk segera keluar dari ruang ganti itu.

***

Min-A berjalan sangat lamban menuju seorang pria dengan tuxedo putih di depan altar itu. Sangat sulit baginya menerima kenyataan dalam waktu kurang dari sejam lagi dia akan menjadi istri orang yang sangat dibencinya selama kurang-lebih 7 tahun terakhir ini. Ia mencengkram erat lengan Min-Ho yang  mengantarnya menuju altar.

“gwaenchana Min-a~ya.” Min-Ho berusaha menenangkan Min-A. Min-ho menyerahkan lengan adiknya pada Kyuhyun saat mereka sudah berada di depan altar. Dengan berat hati Min-A menyambut uluran tangan Kyuhyun. Kyuhyun terus memperhatikan Min-A yang sedari tadi terus menghela nafas.

Mereka mengucapkan janji pernikahan mereka dengan sangat lancar. Semua orang yang hadir tampak sangat bahagia atas resminya hubungan mereka terutama kedua belah pihak keluarga. Tubuh Min-A menegang saat sang pendeta menyuruh mereka berciuman. Ia melirik tajam sang pendeta menunjukan rasa ketidak sukaannya dan sang objek hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya. Dengan cepat Kyuhyun meraih tengkuk gadis itu dan mengecup bibirnya lembut. Semua tamu undangan bertepuk tangan menyaksikan adegan tersebut.

“Cho Kyuhyun ku pastikan kau tak akan melihat dunia besok pagi!” Min-A mendelik kearah Kyuhyun. Kyuhyun menatapnya datar dengan salah satu sudut bibirnya terangkat. Dia mencondongkan tubuhnya dan berbisik di telinga Min-A.

“aku tak perlu melihat dunia saat surga terpampang jelas di depan wajahku.” Pria itu menegakkan tubuhnya lagi sebelum Min-A memukulnya. Ingin sekali gadis itu memukulnya, membuat wajah pria itu di penuhi memar.

***

Min-A mendengus kesal melemparkan sepatu hak tingginya kesembarangan tempat. Ia benar-benar tak peduli jika harus menyambut tamu-tamu yang jumlahnya ribuan itu tanpa sepatu. Yang ia pedulikan hanya akan separah apa lagi kondisi kakinya jika ia harus berdiri ber-jam-jam mengenakan sepatu itu. Tiga jam saja sepatu itu telah sukses membuat kakinya lecet sedangkan tamu yang datang belum separuh dari tamu yang diundang. Dia terus mengutuki keluarganya dan ‘keluarga baru’nya itu. Dia tak habis pikir, ada seberapa banyak sebenarnya tamu yang diundang. Badannya sudah terasa sangat pegal. Yang ingin ia lakukan saat ini ialah paling tidak merebahkan tubuhnya diatas kasurnya. ia menendang-nendang sepatu hak tingginya itu dan memandangi tamu-tamu di dalam ruangan itu dengan kesal sedangkan dirinya diluar menenangkan diri dan menarik nafas sebanyak-banyaknya untuk memenuhi rongga paru-parunya yang terasa sangat kosong tiga jam belakangan ini.

“sedang apa kau disini gadis bodoh?” Min-A menengadahkan kepalanya menatap objek paling dibencinya itu dengan tatapan sinis. Beruntung saat ini sisa tenaga Min-A tak sanggup untuk meneriakinya. Min-A memungut sepatu-sepatunya yang berserakan dilantai dan bergegas pergi menghindari pria itu. “mau pergi kemana kau nona Cho?” Kyuhyun meneriaki gadis yang tiga jam lalu dinikahinya itu. Min-A berbalik dan menghela nafas panjang mengontrol emosinya.

“kemana aku akan pergi itu bukan urusanmu. Urusi saja urusanmu sendiri!” Min-A segera membalikkan tubuhnya lagi dan berjalan dengan langkah cepat berusaha menjauh dari pria yang sangat menyebalkan dimatanya itu. Belum jauh ia melangkah ia terjatuh karena tak sengaja menginjak gaunnya sendiri. Kyuhyun berlari menuju gadis itu dan berusaha membantunya berdiri.

“Gadis payah! Kau itu memang sangat bodoh. Kaki lecet seperti itu masih saja kau gunakan untuk berjalan.” Kyuhyun menyentil dahi gadis itu yang sukses membuatnya mendapat tinjuan cukup keras di tangannya.

“kalau kau tidak berniat membatu dan hanya ingin memakiku saja, lebih baik kau enyah dari hadapanku sekarang juga karena aku muak melihat wajahmu, kesombonganmu dan semua yang ada dalam dirimu itu!” Min-A mengangkat gaunnya kasar dan berjalan entah kemana. Kyuhyun hanya bisa diam mematung mendengar ucapan gadis itu.’ separah itukah’ batinnya.

***

 

MIN-A’S POV

Akhirnya aku bisa merebahkan tubuhku juga. Sungguh menyebalkan mengahbiskan waktuku dikelilingi manusia sebanyak itu. Aku sangat benci keramaian. Baru saja aku berniat mengganti pakaianku saat aku melihat wajahnya muncul dari balik pintu. Sedang apa ia disini? Oh, baiklah dia suamiku sekarang. Aku sungguh muak dengan dirinya. Apa bagusnya dia sehingga banyak sekali gadis yang menggilainya sedangkan aku membencinya setengah mati. Tampan? Dia memang tampan tapi, ayolah, dia bahkan tidak memiliki sopan santun sama sekali. Suatu bencana besar menikah dengannya. Aku buru-buru menuju kamar mandi dalam kamarku.

Ya! Apa-apaan ini! Siapa yang beraninya mengganti alat-alat mandiku? Sikat gigiku, semuanya. Ini sungguh menjijikan semua barang-barang ini berpasangan. Siapapun yang melakukan ini, dia sungguh gila! Aku melemparkan sikat gigi berwarna pink itu ke wastafel. Kenapa hari ini semua orang membuatku frustasi termasuk Min-Ho oppa dengan perkataannya tadi pagi tentang apa yang tidak ku ketahui dan mulai hari ini harusku cari tahu itu. Aku berteriak frustasi melampiaskan semua amarah yang sejak tadi pagi aku tekan ini mengacak-acak rambutku. Ih! Ini sungguh menyebalkan!

“kau ini sungguh berisik! Berteriak-teriak seperti orang gila mengganggu pendengaran saja!” bocah setan itu benar-benar memperburuk keadaan. Sebaiknya dia diam saja seperti saat para orang tua menyebalkan itu memberi tahu rencana perjodohan bodoh mereka.

“diam kau! Kalau kau tidak ingin pendengaranmu itu terganggu lebih baik kau pergi dari sini. Pergilah jauh-jauh dari jangkauan mataku atau kau mau aku melenyapkanmu? Aku untung kau untung.” Aku kembali merebahkan tubuhku dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhku serta wajahku. Lebih baik seperti ini daripada aku harus melihat wajahnya yang menyebakan itu. bocah menyebalkan itu tiba-tiba menyibakkan selimutku dan entah sejak kapan tubuhnya berada diatas tubuhku.

“kau ingin melenyapkanku hah? Boleh saja! Asal kau ikut aku ke neraka.” Dia mengeliminasi jarak antara kami membuat tubuhnya semakin dekat denganku. Dia sedang mencoba mempermainkanku rupanya. Kutarik tengkuknya seolah aku akan mencimnya. Aku berbisik ditelinganya dengan nada seseduktif mungkin sembari mengelus pipinya.

“tak akan pernah tuan Cho. Jangan pernah berharap kau bisa membuatku menyerahkan hidupku padamu!” kudorong tubuhnya dan kutendang kakinya dengan sekuat tenaga membuatnya jatuh dari kasur. Aku tertawa penuh kemenangan dalam hati. Kutarik lagi selimutku tanpa mempedulikan dirinya yang tengah kesakitan itu dan malah berharap besok pagi aku melihat luka memar terpahat di sekujur tubuhnya.

***

Aku merasakan ada beban dipinggangku. Aku masih terlalu malas membuka mataku. Rasanya aku ingin tidur seharian ini. Kubalikkan badanku menghindari cahaya matahari yang menyoroti wajahku. Astaga! Aku lupa. Bocah setan yang menyebalkan itu tidur disampingku. Baiklah dia memang tampan. Bahkan dapat di kategorikan sangat tampan. Wajahnya sangat damai saat sedang tertidur tapi tetap saja menyebalkan. Kubalikan lagi tubuhku menjauhi wajahnya kusingkirkan lengannya yang melingkar dipinggangku.

“kau sudah bangun nona Cho?” bocah setan itu mempererat pelukannya dipinggangku.

“singkirkan lenganmu itu dari pinggangku!” aku berusaha melepaskannya tapi dia malah membawaku kedalam dekapannya. Dia menyelusupkan lengannya kebawah tubuhku, memelukku dengan kedua lengannya.

“diamlah. Aku lelah. Aku tidak sedang ingin bertengkar denganmu pagi  ini.” Suaranya yang berat terdengar semakin berat. Dia membenamkan wajahnya dirambutku.

“aku juga sama lelahnya denganmu. Bahkan bisa dikatakan jauh lebih lelah darimu dan lenganmu itu sangat berat kau tahu. Jadi sebaiknya kau singkirkan lenganmu itu dari pinggangku dan jangan bernafas ditengkukku karena itu sangat mengganggu.” Kusingkirkan lengannya dan langsung saja kusambar handuk yang tertumpuk di meja dekat sofa. Aku tidak berniat menghabiskan waktuku dirumah kalau setan itu terus berada dalam jarak pandangku jadi lebih baik aku pergi jalan-jalan sendirian atau mengajak teman-temanku yang lain.

Setan itu duduk dengan santainya di sofa dan melemparkan dua buah amplop yang takku ketahui isinyah itu kesebelahnya.

“ambil itu.” Rasanya tanganku sangat gatal ingin menjambak rambut cokelatnya itu. Dia bicara sangat datar dan terkesan angkuh.

“apa itu?” sebisa mungkin aku mengendalikan emosiku yang memuncak melihat wajahnya yang menyebalkan itu.

“lihat saja sendiri. Jangan berteriak jika kau sudah melihatnya.” Dia berjalan dengan angkuhnya kekamar mandi. Sombong sekali manusia itu.

Aku membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Sebuah tiket. Paris. Untuk apa bocah setan itu memberikannya padaku. Aku melemparkan tiket tersebut ketempatnya semula. Aku sungguh tidak tertarik dengan hal itu. aku mulai mengambil semua barang-barang berhargaku dan menyelusupkannya ke dalam tasku. Aku sungguh ingin segera pergi.

“mau pergi kemana kau?” astaga. Sejak kapan dia ada di belakangku? Aku memang harus benar-benar bersabar dan membiasakan diri menghadapi dirinya setidaknya untuk beberapa bulan.

“mencari oksigen.” Aku beranjak menjauh darinya. Kutarik tali tasku dan ku sampirkan kepundak kananku.

“bagus! Berarti kita bisa pergi sekarang.” Dia menarik dua koper yang ada di samping tempat tidur. Tunggu! Sejak kapan koper-koper itu ada disitu? Seingatku tak ada koper sama sekali di ruangan ini. “mengapa kau hanya diam disitu hah? Ayo pergi. Sejam lagi pesawatnya berangkat.” Tiba-tiba dia menarik lenganku membawaku keluar kamar. Aku masih tidak mengerti dengan hal ini.

“hey! Memangnya kita mau kemana? Aku tidak merasa pernah mengajakmu pergi dan sejak kapan koper-koper itu ada di dalam kamarku hah?” aku mencoba melepaskan genggaman tangannya.

“ibumu yang meletakannya. Dan bukankah tadi aku sudah memberikannya padamu? Kau sudah melihat isinya kan? Jadi jangan banyak tanya lagi. Tiket itu juga pemberian ibuku jadi jangan berpikiran macam-macam tentangku.” Kyuhyun melepaskan genggaman tangannya dan beralih merangkul pundakku saat kami sampai di ruang keluarga. Cih! Apa dia sedang menmpilkan image sebagai seorang suami yang baik untukku? Dasar penipu!

“lepaskan rangkulan tanganmu dari pundakku sekarang juga! Siapa yang pernah mengizinkanmu menyentuhku hah?” kuinjak kakinya dengan sepenuh tenaga. Berhasil dia menarik lengannya dari pundakku.

“kalian akan pergi sekarang? Aigoo, lihatlah kalian benar-benar sangat cocok. Bagaimana bisa aku memiliki menantu yang sangat cantik sepertimu sayang.” Cho ahjumma mengelus-elus pipiku sayang. Dia wanita yang baik dan sangat aku kagumi selain ibuku.

“terima kasih.” Hanya dua kata itu yang bisa kulontarkan sekarang. Aku sedang tak  ingin bicara. Dengan siapapun tentang apapun dalam keluarga ini.

“Min-A~ya. Kabari aku jika kau sudah sampai. Ara?” Min-Ho oppa. Selalu dia yang mampu memaksaku untuk bicara sedikit lebih banyak. Kalau dia bukan kakakku mungkin dia yang akan aku nikahi. Berbeda sekali dengan Kyuhyun yang selalu tampak sombong, angkuh, tidak sopan dan semua ketajaman lidahnya, Min-Ho oppa adalah seorang yang amat sangat lembut dan perhatian. Dia pria idaman. Beruntung sekali wanita yang akan menjadi eonniku nanti.

“ne, oppa.” Aku tersenyum dan memeluknya. “aku pasti akan sangat merindukanmu. Kenapa kau tidak ikut saja? Aku pasti akan mati bosan kalau aku terus bersamanya.” Min-Ho oppa mengendurkan pelukanku.

“aku tidak akan mau merusak rencana bulan madu kalian dan proses pembuatan keponakanku.” Aku memukul dadanya. Kenapa dia tak bosan-bosannya menggodaku.

“oppa! Berhenti mengucapkan kata-kata menjijikan seperti itu!” dia malah mencubit pipiku. Aish! “eomma! Geu namja neomu neomu nappeun eomma! Bagaimana bisa kau melahirkan anak yang seperti ini?”

“Min-Ho~ya. Apa lagi yang kau katakan pada adikmu? Berhentilah menggodanya.” Eomma menjitak kepala Min-Ho opa dan aku tertawa kegirangan. Pertama kalinya aku tertawa selepas ini didepan mereka setelah dua bulan aku menghabiskan waktuku yang sangat membosankan karena bocah setan itu terus berada di sekitarku.

“appeuda oppa?” aku mengelus rambutnya yang terasa sangat halus tapi aku masih sangat geli melihatnya meringis kesakitan karena dijitak ibuku tadi. “berhentilah menggodaku oppa maka kau akan selamat dari jitakan wanita menyeramkan itu.” aku tertawa lagi dan kini Min-Ho oppa ikut tertawa bersamaku.

“anak macam apa kau Min-A~ya. Aku sungguh menyesal membelamu tadi.” Ibuku ini sungguh menggelikan. Umurnya masih 46 tahun. Masih muda, eo? Iya di menikah saat ia seusiaku dan melahirkan kakakku saat umurnya 22 tahun.

“aish, eomma neomu kyeopta.” Ah, lucu sekali ibuku ini kalau sedang merajuk.

“kalian nampak seperti keluarga yang sangat bahagia. Kalian sama-sama menyenangkan dan ceria berbeda sekali dengan keluargaku yang kaku.” Nyonya Cho menatap tajam bocah setan itu. baru kali ini aku melihatnya seperti itu.

“ah, ah kajja! Kita bisa terlambat.” Kyuhyun menarik lenganku keluar dari rumah.

“Min-A~ya sepulang dari sana bawakan eomma oleh-oleh cucu yang cantik ya!”

“eomma!” entah semerah apa wajahku sekarang. Walaupun aku tahu Kyuhyun dan aku sama-sama tak memiliki niat meakukan hal itu tapi tetap saja aku malu.

***

Charles de Gaulle Airport. Paris, Perancis.

AUTHOR’S POV

“Bonjour” sapa supir taksi saat Min-A dan Kyuhyun masuk kedalam taksi itu.

“Bonjour monsieur.” Min-A balas menyapa pria perancis yang tampak ramah itu. Kyuhyun menyerahkan secarik kertas berisikan alamat hotel yang telah dipesankan oleh Ah-Ra untuk mereka. Tanpa banyak tanya lagi sang supir langsung melajukan mobilnya ke tempat tujuan.

“vous etes en vacances?” sang supir berusaha ramah kepada penumpangnya ini.

“oui, nous sommes en vacances.” Min-A menjawabnya seramah mungkin. Sebenarnya dia tak terlalu yakin dengan kalimat yang diucapkannya itu benar atau tidak. Dia belum pernah berbicara pada orang perancis langsung sebelumnya.

“vos competences linguistiques en francais sont tres bons pour les personnes en Asie. Avez-vous deja vecu ici avant?” min-A tersenyum lebar. Tidak sia-sia ia belajar bahasa prancis selama ini.

“Merci. Je n’ai jamais ete. Je n’ai jamais vecu ici avant.”  Kyuhyun yang sedari tadi memerhatiikan mulai kesal karena dia tidak begitu bisa bahasa perancis. Dia hanya diam mengetuk-ngetuk ponselnya tidak jelas.

“il est votre ami?” sang supir melirik spion.

“il n’est pas. Il est mon mari. Pourquoi?” Min-A ikutan melirik spion karena supir itu terus tersenyum saat melirik ke arah tempat duduknya dan Kyuhyun.

“vous etes tres chanceux de l’avoir comme votre mari.  Vous regardez tres en forme. Vous devez etre heureux. Puis-je vous regarde comme j’ai vu ma femme.”

“Je ne comprends pas que vous voulez dire. Comment il me regardait?” Min-A tampak bingung dengan pernyataan supir itu. memangnya bagaimana cara Kyuhyun menatap dirinya sampai dia nampak seberuntung itu?

“quand je vois les yeux brillants. Son regard intense que la peur vous serez blesse, si manquer une fois. On dirait qu’il aime vraiment vous et vous aussi.”

“est-ce vrai?” Min-A terkejut mendengarnya. “Je dois etre tres chanceux de celui-ci mais je pense que son impossible. Je ne regarde jamais ce que vaut pour lui.” Air wajah Min-A seketika berubah. Percampuran antara senang dan menyesal karena dia tadi bertanya juga rasa sakit yang sempat hilang beberapa saat.

“Min-A~ya berhentilah bicara dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Kau bisa bicara menggunakan bahasa inggris kan? Jangan buat aku nampak sebodoh ini.” Kyuhyun menatap wajah Min-A intens. Dia tidak suka di abaikan.

“vous avez vraiment stupide.” Min-A mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Dia tidak suka dipandangi oleh Kyuhyun dalam jarak sedekat ini. Ia takut rasa itu akan muncul lagi.

“Kau mengataiku bodohkan?! Kau sungguh menyebalkan!” Kyuhyun tau dia dikatai bodoh oleh gadis itu. Gadis itu hanya mengedikkan bahunya tak peduli.

“nous obtenons.” Taksi berhenti. “Welcome to Paris.” Lanjut sang supir taksi.

“thank you sir.” Kyuhyun menyerahkan beberapa lembar uang kepada supir taksi tersebut.

***

 

Hotel Britannique

 20 Avenue Victoria,75001 Paris, Prancis.

 

          “wah, aku bersumpah ini lebih indah dari yang aku bayangkan.” Min-A melemparkan tasnya ke kasur dan langsung berlari ke balkon kamar hotel yang mereka tempati. Kyuhyun hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang berubah menjadi sangat kekanakan itu.

“kau kekanakan sekali Min-A~ya. Kau yang seperti ini sanagat menyeramkan.” Kyuhyun menyusul istrinya dan bersandar di pagar balkon. Tersenyum kecil melihat istrinya.

“sudahlah Kyu. Aku sedang malas bertengkar denganmu. Jangan merusak moodku hari ini. Aku benar-benar ingin liburan.” Min-A masih mengagumi keindahan kota Paris yang dapat dilihatnya dengan jelas dari atas sini.

“aku tahu. Aku juga sama malasnya denganmu. Aku lelah, aku ingin tidur.” Kyuhyun pergi meninggalkan istrinya sendirian di balkon. Dia langsung melesak masuk kedalam selimut dan tertidur dengan mudahnya.

Puas memandangi kota Paris Min-A ikut-ikutan masuk kedalam selimut. Tertidur. Perjalan dari Seoul sampai Paris memang sangat menguras tenaga. Ditambah mereka sama-sama tak tidur selama di pesawat.

***

            “Min-A~ya palli ireona! Hey! Ireona.” Kyuhyun mengguncang-guncang tubuh istrinya yang masih terlelap.

“Kyu, aku ngantuk. Aku lelah.” Min-A menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya.

“lihat ini sudah jam berapa. Kau mau mati kelaparan hah?” Kyuhyun menarik selimut yang digunakan gadis itu dan menarik-narik lengannya hingga gadis itu terduduk.

“aku belum lapar.” Min-A melepaskan tangan Kyuhyun yang menggenggam tangannya. Ia merebahkan tubuhnya lagi.

“bangun kalau tak mau aku cium!” Kyuhyun membisikan kata-katanya di telinga Min-A dan sukses membuat gadis itu segera beranjak dari tempat tidurnya.

“dasar namja mesum!” Min-A segera berlari ke kamar mandi meninggalkan Kyuhyun yang terkikik kegelian. “apa?” Min-A mendelik kearah Kyuhyun yang sedang menertawakannya.

“wajahmu yang jelek terlihat makin jelek saat kau panik seperti itu.” Min-A hanya bisa mendengus menekan amarahnya.

***

            “Hey! Kau mau makan apa?”

“aku tidak makan. Ini sudah lewat dari jam makan malamku. Kalau kau mau makan, makan sendiri saja. Aku ingin minum cappucino saja.” Min-A meletakan menu makanan yang tadi ia pegang diatas piring putih yang ada di depannya. Memangku dagunya dengan kedua tangannya. Sama sekali tidak terlihat tertarik dengan makanan-makanan lezat yang dilihatnya.

“kau ini sudah cukup kurus jadi kau harus makan. Aku tidak suka gadis kurus. Kau terlihat tidak menarik seperti itu.”

“apa pedulimu tentang aku tuan Cho dan apa yang kau sukai juga bukan urusanku. Kau tidak suka gadis kurus? Aku tidak pernah memintamu untuk tertarik padaku.”

“secara langsung tidak tapi secara tidak langsung kau memaksaku untuk tertarik padamu.”

“HA! Kau lucu sekali. Melihat wajahmu saja aku sudah muak apalagi memaksamu untuk tertarik padaku. Kau pikir aku wanita seperti apa?!” Min-A menurunkan tangannya. Menegakkan tubuhnya. Menatap wajah pemuda itu penuh kebencian.

“kau muak padaku?” seketika wajah pemuda itu mengeras. Suaranya datar.

“kau pikir kenapa aku menolak perjodohan ini? Tidakkah kau melihat aku satu-satunya gadis di kampus yang sama sekali tidak tertarik padamu?”

“begitukah? Sama sekali tidak?”

“tidak sama sekali. Memikirkan aku akan tertarik apalagi mencintaimu saja tidak pernah. Dan tolong di catat ya. Aku setuju menikah denganmu dengan keterpaksaan yang amat sangat dan kalau bukan MinHo oppa yang membujukku pernikahan ini tidak akan pernah terjadi. Aku lebih memilih diusir dari rumah dan menghabiskan sisa hidupku sendiri di bandingkan harus menghabiskan sisa hidupku bersamamu.” Min-A tersenyum puas setelah mengeluarkan semua kebenciannya terhadap pemuda di hadapannya dan setelah mendapatkan kenyataan bahwa pemuda tersebut tidak bisa berkata apapun setelah mendengarnya.

“aku tahu. Tapi kau tetap menjadi milikku pada akhirnya.” Kyuhyun mulai berbicara dan bertahan dengan suaranya yang datar. Tangannya terkepal hinga buku-buku jarinya memutih.

“milikmu? Belum dan tak akan pernah. Aku tidak akan pernah menyerahkan hidupku padamu. Tak akanku izinkan kau menyentuhku seujung rambutpun.”

“kau yang nantinya akan meminta.” Min-A menarik tali tasnya dan pergi dari hadapan pemuda menyebalkan dihadapannya. Menolak meneruskan perdebatan mereka dan lebih memilih menjauhkan diri. Dia tidak peduli kalau pemuda itu tersesat tak bisa kembali ke hotel mengingat pemuda itu tak bisa berbahasa inggris dan perancis. Dia berjalan dengan langkah cepat. Hilang di tengah kerumunan pejalan kaki di jalanan itu. Kyuhyun yang tadi masih terpaku di tempat segera berlari mengejar gadisnya. Dia bukan orang bodoh yang mau mati konyol di negara orang. Tidak sulit menemukan gadisnya. Tidak banyak populasi orang asia di negara ini jadi dia tak perlu membuang banyak tenaga untuk mencarinya. Dia tidak menghampiri gadisnya. Hanya berjalan di belakangnya dan memberikan ruang untuk gadisnya.

Mereka berjalan dalam diam. Pemuda itu tak berniat sama sekali untuk memulai pembicaraan sedangkan Min-A masih mengira ‘suami’nya sedang kebingungan mencari jalan pulang. Ia tak sadar objek yang di bayangkannya sedang berjalan mengikutinya. Min-A meraih kamera dalam tasnya. Memotret setiap sudut kota yang ia jumpai. Kegiatannya terhenti saat ponselnya berdering. Ibunya. Gadis itu terus berjalan menyusuri jalanan kota menuju Eiffel Tower yang sudah nampak di depan matanya. Ponselnya ia jepit antara bahu dengan telinga kirinya sedangkan kedua tangannya masih asyik memotret. Tiba-tiba secara tak sengaja ia menabrak seseorang. Dia terjatuh dan orang yang di tabraknya membantunya untuk berdiri.

“Im sorry. I really sorry.” Ujarnya sambil setengah membungkuk.

“ne, gwaenchana agashi.” Jawab pria yang di tabraknya.

“ah?” Min-A tampak bingung karena pria itu berbicara bahasa korea.

“kau orang korea kan?” tanya pria itu sambil tersenyum. Senyumannya sangat manis. Wajahnya bisa di kategorikan sangat tampan walaupun Min-A juga mengakui Kyuhyun lebih tampan darinya.

“iya. Kau juga?” pria itu hanya mengangguk. “jweongseomhabnida.” Min-A membungkuk lagi.

“ye, gwaenchana. Shin Hae-Jun ibnida. Siapa namamu?” pria yang diketahui bernama Hae-Jun itu mengulurkan tangannya.

“Choi Min-A ibnida. Bangapseumnida.” Min-A menyambut uluran tangan pria itu.

“apa kau bisa berbahasa inggris?”

“ya, aku bisa. Memangnya kenapa?”

“ah, aniyo. Aku tidak bisa berbahasa inggris dan ini kali pertamaku datang ke negara ini. Aku belum menemukan hotel yang bagus untuk di tempati. Bisakah kau membantuku Min-A~ssi?” Min-A masih menimbang-nimbang jawaban yang akan di berikannya. Dia memandang orang di depannya itu mencari-cari sesuatu yang janggal dalam diri orang ini. Ada sedikit rasa takut dalam dirinya. Setelah beberapa kali meneliti akhirnya dia menyetujuinya.

“baiklah aku akan membantumu Hae-Jun~ssi kebetulan aku juga bisa berbahasa perancis. Aku menginap di hotel Britannique kalau kau mau kau bisa menginap di sana juga. Pelayanannya bagus tapi harganya sedikit lebih mahal.”

“tidak apa. yang penting aku punya ruangan untuk aku tinggali dua hari ini dan setidaknya aku menemukan orang yang berkewargaraan sama denganku. Kamshahabnida Min-A~ssi.” Pria itu tersenyum lagi. Senyumannya seperti senyuman seorang yang menemukan oasis di tengah gurun pasir. Min-A membalas senyumannya.

“apa kau akan langsung kembali ke hotel?”

“tadinya aku mau berjalan-jalan sebentar di sekitar Eiffel Tower. Apa kau mau langsung ku antar ke hotel?”

“aniya aku juga sama.”

Min-A dan Hae-Jun berjalan-jalan sekitar menara Eiffel. Mereka terlihat mulai akrab satu sama lain. Sesekali salah satu dari mereka melontarkan lelucon-lelucon yang membuat lawan bicaranya tertawa walaupun lebih sering Hae-Jun yang melakukannya sedangkan Min-A hanya tertawa. Tanpa di sadari keduanya, Kyuhyun yang sedari tadi mengikuti mereka mulai tak bisa mengontrol emosinya karena melihat keakraban diantara keduanya.

***

            Min-A dan Hae-Jun telah sampai di hotel tempat Min-A menginap. Min-A membantu Hae-Jun memesan sebuah kamar. Kyuhyun masih memperhatikan keduanya. Hatinya seolah hancur lebur seperti pasir melihat gadis itu tersenyum saat bersama pria lain. ‘Jadi sebenci itukah dia padaku?’ batin Kyuhyun. Dia berjalan menuju kedua orang yang sepertinya telah menyelesaikan urusannya. Dia merasa harus segera menyelesaikan masalah antara dirinya dan Min-A.

“kurasa urusan kalian telah selesai sekarang aku boleh membawa istriku kembali kekamarnya kan?” Kyuhyun melingkarkan lengan kirinya di pinggang Min-A menarik tubuh gadis itu hingga menempel dengannya sementara tangan kanannya ia gunakan untuk menepuk bahu Hae-Jun. Hae-Jun hanya bisa diam dan mengangguk saat mendapatkan tatapan dingin dan tajam dari Kyuhyun. Min-A melonggarkan pelukan Kyuhyun terhadap dirinya dan membungkuk kearah Hae-Jun.

“Minhaeyo oppa.” Kyuhyun segera menarik gadis itu dengan paksa menuju lift. “lepaskan aku.” Gadis itu meronta minta di lepaskan. “Kyu, lepaskan aku tanganku sakit. KYU!” Min-A berteriak dan air mata mulai mengalir di kedua belah pipinya. Akhirnya Kyuhyun menyerah dan melepaskan cengkramannya. Dia mengacak-acak rambutnya frustasi. Membenturkan kepalanya ke dinding lift. Min-A masih menangis sambil memegangi lengannya yang  memerah akibat cengkraman tangan kyuhyun tadi. Kyuhyun meraih tubuh gadis itu kedalam pelukannya membenamkan wajahnya di bahu gadis itu. Pipinya mulai terasa panas. Min-A memukul-mukul dada Kyuhyun. “kau jahat! Apa salahku padamu? Kenapa kau terus menerus menyakitiku? Kenapa kau tidak pernah membiarkanku hidup tenang dalam duniaku? Kenapa Kyu? Kenapa?” pintu lift terbuka. Kyuhyun melepaskan pelukannya, menggenggam lengan gadis itu membawanya menuju kamar mereka.

Setelah mereka masuk ke dalam kamar, kyuhyun mendudukan gadis itu di ranjang dan berlutut di hadapan gadis yang masih terisak itu. menatapnya tepat di manik mata sang pemiliknya. Kedua tangannya sibuk menghapus air mata yang jatuh di kedua pipi Min-A.

“apa yang kau inginkan dariku? Apa yang akan membuatmu berhenti menyakitiku? Aku sudah hancur Kyu. Cukup hancur. Hanya nyawa yang masih menempel di tubuhku. Kau ingin aku menderita? Aku sudah sangat menderita sekarang. Apa lagi yang kau inginkan?” tangisnya mulai mereda tapi suaranya hampir habis. Tubuhnya bergetar.

“maafkan aku. Kau boleh berbuat apapun yang kau inginkan terhadapku. Kau boleh memukulku. Kau boleh mencabik-cabikku. Kau boleh membunuhku. Lakukanlah. Lakukan apa yang kau inginkan terhadapku asalkan semua hal itu dapat  menghapus luka di hatimu yang aku perbuat. Kau tidak pernah berbuat salah padaku. Sama sekali tidak. Kau memberiku banyak hal. Kau memberiku hidup. Aku selalu merasa lebih manusiawi saat bersamamu. Kau dapat membuatku tersenyum saat melihat wajah bodohmu. Membuatku ingin melindungimu saat kau rapuh. Ingin memelukmu saat aku melihat tawamu dan membuatku marah saat kau menangis. Kau lebih menarik dari semua game yang aku mainkan. Satu-satunya objek yang paling menarik di mataku. Kau selalu terlihat mempesona di mataku walaupun kau selalu menyembunyikan keindahanmu di balik kaca mata besar yang selalu kau pakai saat kau keluar rumah. Aku mencintaimu.” Min-A terdiam mendengar ucapan yang dengan lancarnya di lontarkan oleh kyuhyun. Balik menatap mata Kyuhyun mencari kebohongan di dalamnya namun sial dia bahkan tak dapat menemukannya. Matanya terlihat sangat tulus saat ia mengatakannya.

“mencintaiku? Jangan bercanda! Kau bahkan menjadikanku bahan taruhan 7 tahun lalu. Masih segar dalam ingatanku kau juga bilang kau mencintaiku pada saat itu tapi dibalik semuanya kau berbohong. Kau menipuku. Mempermainkanku. Kau membuatku percaya bahwa kau benar-benar mencintaiku dan setelah aku mempercayaimu aku mendapatkan kenyataan bahwa kau dan teman-teman brengsekmu itu mempermainkanku. Menjadikanku bahan taruhan konyol. Apakah saat ini aku perlu percaya lagi padamu? Menumbuhkan harapan baru lagi bahwa kau orang yang di takdirkan untuk bersamaku? Menua bersamaku?”

“aku tidak memaksa. Aku hanya ingin menyampaikannya padamu. Aku mencintaimu. Rasanya tidak berubah sejak 10 tahun lalu saat pertama kali aku bertemu denganmu. Bertemu dengan gadis cilik yang menangis karena kotak musiknya dirusak oleh sekumpulan anak nakal di taman. Bahkan rasa itu bertambah setiap saat. Aku juga ingin memberitahukanmu bahwa ucapanku 7 tahun yang lalu juga bukan sebuah kebohongan. Aku benar-benar mencintaimu. Benar aku ikut dalam taruhan itu tapi bukan berniat menyakitimu justru sebaliknya. Aku tidak ingin mereka yang menyakitimu karena mereka tidak merasakan hal yang sama seperti apa yang aku rasakan terhadapmu. Mereka tidak mencintaimu. Kau pikir aku sebodoh apa sampai aku mendapat nilai nol di ulangan matematikaku sedangkan kau tahu aku peraih medali emas dalam olimpiade matematika. Kau yang terlalu bodoh dan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu. Pernah kau mendengarkan ucapan seseorang sampai selesai? Tidak.” Min-A kembali terisak mendengar pengakuan pemuda di hadapannya itu.
Pemuda itu pernah dicintainya. Pemuda itu sempat menjadi seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya dulu sebelum pemuda itu mengahncurkan kepercayaannya. Bahkan saat ini dia masih mencintainya. Dia menipu semua orang termasuk dirinya sendiri. Berusaha menghindar dari kenyataan dia masih mencintai pemuda itu.

“aku takut Kyu. Aku takut.” Ucapnya lirih. Kyuhyun bangun dan memeluk gadis itu lagi. Membenamkan wajah gadis itu di dadanya.

“kau takut? Apa yang kau takuti? Kau takut aku menyakitimu lagi? Tidak akan. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai aku melakukannya. Aku tidak akan membiarkan setetes air matapun jatuh dari matamu karena aku.” Kyuhyun melepaskan pelukannya dan beralih mencium bibir gadis itu. hanya lumatan-lumatan lembut pada awalnya yang berubah menjadi sebuah ciuman yang menuntut. Kyuhyun menyusupkan jari-jarinya kedalam rambut gadis itu. menekan tengkuk gadis itu agar wajah mereka mendekat, sama sekali tak memberikan jarak antara wajahnya dan wajah gadis itu. Kyuhyun menggigit bibir bawah Min-A membuat gadis itu membuka mulutnya dan memanfaatkan keadaan untuk menyelusupkan lidahnya kedalam rongga mulut gadis itu. mengeksplorasinya, mengabsen deretan gigi gadis itu satu per satu. Dia menumpukan kedua tangannya disamping gadis itu menahan tubuhnya agar tak menindih gadis itu. dia menghentikan sebentar kegiatannya saat ia merasa gadis itu kehabisan nafas. Ia mencium kening gadis itu, kedua matanya, hidungnya, kedua pipinya, mengecup sekilas bibir gadis itu yang mulai bengkak akibat ciumannya tadi lalu turun keleher gadis itu. ia menghirup feromon gadis itu dan mulai mencium lehernya, menggigit-gigit kecil dan menyedotnya sehingga timbul bercak merah kecoklatan dileher gadis itu. Tangannya yang tadi menjadi penyangga tubuhnya tidak lagi berada di tempatnya semula dan entah bagaimana caranya kemeja putih yang dikenakan Min-A tadi sudah terlepas dari tubuh gadis itu.

“saranghae Min-A~ya.” Dia membisikannya tepat ditelinga gadis itu. “would you be mine from now until we leave this cruel world?” Kyuhyun menatap wajah Min-A penuh harap yang diballas sebuah anggukan oleh gadis itu.

“I do.” Kyuhyun kembali melumat bibir gadis itu dan gadis itu membalasnya. Ia mengalungkan tangannya ke leher pemuda yang telah menjadi suaminya tersebut.

***

            Gadis itu menggeliat pelan saat ia merasakan sesuatu yang dingin dan lengket dipergelanggan tangan kanannya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang seolah enggan untuk terbuka.

“kau sudah bangun Min-A~ya?” ia sedikit terkejut melihat pemuda itu tengah mengoleskan sesuatu di pergelangan tangan kanannya yang semalam dicengkram Kyuhyun saat mereka bertengkar.

“apa yang kau lakukan?” Min-A berusaha duduk sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

“ini obat agar memarnya cepat hilang tadi pagi aku ke apotik.” Kyuhyun mengambil kemejanya yang ada di lantai dan menyodorkannya pada Min-A “pakai ini dan cepat mandi. Badanmu lengket sekali kau tahu? Jangan lama-lama kalau kau tidak mau melewatkan jam sarapanmu seperti kau melewatkan jam makan malammu.” Min-A mengambil kemeja yang diberikan oleh Kyuhyun.

“memangnya siapa yang membuat badanku lengket begini hah? Bahkan bukan hanya lengket, pinggangku rasanya remuk menahan berat tubuhmu itu. Bagaimana bisa pemuda kurus sepertimu menjadi begitu berat. Aish.” Min-A mengancingkan kemejanya dengan cepat, memungut semua pakaiannya yang berserakan dilantai dan berjalan cepat ke kamar mandi.

“Min-A~ya…” Min-A berbalik menghadap pemuda itu saat pemuda itu memanggilnya.

“apa lagi?” pemuda itu berjalan mendekatinya memeluknya dan mendaratkan kecupan singkat di bibir gadis itu.

“morning kiss. Terima kasih karena kau telah hidup dan masuk ke dalam kehidupanku. Menjadi istriku dan menyerahkan hidupmu padaku. Aku harap yang semalam akan membuahkan hasil dan akan menyempurnakan hidupku, hidupmu dan pernikahan kita.”

“YAK! Cho Kyuhyun! Kau ini sudah tidak waras ya? Aku ini masih mahasiswi tingkat 3. Kau berharap aku hamil? Ya tuhan! Aku benar-benar harus membawamu ke pskiater.” Min-A menendang kaki Kyuhyun dan langsung berlari ke kamar mandi karena tidak tahan mendengar kegiaan suaminya itu. Dia lebih baik melihat Kyuhyun yang dingin, sombong dan penuh keangkuhan daripada melihat Kyuhyun yang kehilangan kewarasannya dan terus-menerus melontarkan kata-kata menjijikan yang saat ia mendengarnya perutnya seperti di kocok-kocok.

“aku serius nyonya Cho. Lagipula apa peduliku kau mahasiswa tingkat 3, aku juga sama sepertimu. Yang aku pedulikan hanyalah kau adalah istriku, wanita yang akan melahirkan anak-anakku nantinya. Memang apa bedanya sekarang dengan nanti?” Kyuhyun berbicara di depan pintu kamar mandi. Merasa sangat senang karena dia bisa menggoda istrinya terus-menerus.

“tutup mulutmu tuan Cho! Aku akan membunuhmu kalau kau berani bicara lagi!” Min-A membuka sedikit pintu kamar mandi dan menjenggut rambut cokelat Kyuhyun yang sedang terkekeh membelakangi pintu kamar mandi lalu membanting pintu berwarna putih itu dengan kasar. Kyuhyun memegangi kepalanya yang terasa sakit akibat jenggutan dari Min-A.

***

            “oppa, kau dimana? Aku sudah menunggumu dari 20 menit yang lalu. Aku bisa mati bosan disini kalau aku terus bersama makhluk menyebalkan ini.” Min-A menelepon MinHo yang belum menampakkan diri di bandara.

“ah, mianhae sayang. Aku ada rapat mendadak sekarang jadi aku tidak bisa menjemputmu di bandara tapi aku sudah mengirimkan supir untuk menjemput kalian mungkin sebentar lagi dia datang.”

“oppa, aku sangat merindukanmu kau tahu? Apa kau tidak merindukanku?”

‘aaku juga merindukanmu tapi aku bisa di marahi habis-habisan oleh appa jika meninggalkan rapat ini. Mianhae Min-A~ya.”

“ne, arra tapi kau janji ya akan mentraktirku makan es krim?”

“iya aku janji.”

“saranghae oppa.”

“nado min-A~ya.” Min-A memutuskan sambungan teleponnya.

“brother complex. Menjijikan.” Kyuhyun menatap gadis itu tanpa minat. Ia menilangkan kedua tangannya di dadanya, bersandar di sebuah pilar tak jauh dari pintu keluar.

“tutup mulutmu. Kata-katamu jauh lebih menjijikan.” Min-A menatap sengit pemuda dihadapannya itu.

“buang-buang waktu. Lebih baik tadi aku menyuruh Eunhyuk hyung atau Siwon Hyung mengantarkan mobilku kesini. Kau tahu aku sudah merindukan PSPku itu.”

“terserah.” Min-A mendengus kesal melihat tingkah laku suaminya yang menyebalkan itu tapi ini lebih baik daripada dia harus mendengar jutaan kata menjijikan keluar dari mulut setan itu.

***

            Kyuhyun melajukan mobilnya daerah yang Min-A yakini bukan daerah rumah Min-A. Ada sedikit rasa penyesalan dalam diri gadis itu yang tadi membiarkan Kyuhyun menyetir dan menyuruh supir itu pulang naik taksi.

“Kyu, ini dimana? Kita mau kemana?” tanya Min-A. Suaranya terdengar seperti orang bingung bercampur takut.

“pulang.” Jawab Kyuhyun datar.

“tapi ini bukan jalan menuju rumahku.”

“memang bukan. Ini jalanan menuju rumah kita.”

“rumah kita? Maksudmu?” Min-A semakin bingung saat mendengar jawaban dari Kyuhyun. Apa maksudnya dengan rumah kita?

“sebelum menikah aku sudah membeli rumah. Aku harap kau menyukainya. Jaraknya juga dekat dari kampus. Mulai hari ini kita akan tinggal dirumah itu. keluargamu dan keluargaku sudah tahu tentang hal ini jadi jangan protes. Nah kita sudah sampai.” Kyuhyun memarkirkan mobilnya di garasi sebuah rumah yang berukuran tidak terlalu besar. Rumah itu bergaya klasik bercampur minimalis dengan cat berwarna putih yang mendominasi rumah ini. Ada taman bunga kecil di depannya. Min-A nampak terpesona dengan rumah ini. Rumah ini tidak terlihat berlebihan di matanya.

“kau suka?” tanya Kyuhyun sambil membukakan seat belt yang melingkari tubuh gadis itu. gadis itu hanya mengangguk dan mebuka pintu mobil. “tahan kekagumanmu sampai kau melihat bagian dalam rumah ini.” Kedua sudut bibir pemuda itu terangkat saat melihat ekspresi kagum istrinya saat melihat rumah mereka.

Kyuhyun keluar dari mobil mengeluarkan sebuah kunci dari saku celana jeansnya. Merangkul istrinya, membawa gadis itu masuk ke dalam rumah. Ruangan pertama yang mereka lihat adalah ruang tamu. Ruang tamu itu didominasi oleh warna abu-abu dan putih lebih terkesan santai. Ada sofa panjang dan sebuah sofa berbentuk lingkaran berwarna putih di dalamnya. Di tembok diatas sofa panjang itu terpajang foto pernikahan mereka yang berukuran 2 kali big poster. Di belakang ruang tamu ada dapur yang merangkap ruang makan yang jarak antara kedua ruangan tersebut hanya di batasi oleh sebuah lemari kaca berukuran sedang. Berbeda dari ruangan sebelumnya dapur di dominasi warna abu-abu dan merah.

“kau mau melihat kamar kita?” Min-A hanya mengangguk saat Kyuhyun menawarkannya melihat kamar mereka yang berada di lantai dua. Dia terlalu terpesona dengan semuan yang dilihatnya. Ada rasa betah saat ia pertama kali menginjakan kakinya di rumah ini. “kau suka?” tanya Kyuhyun sambil membuka lebar-lebar pintu kamar mereka. Kamarnya di dominasi oleh warna putih dan biru. Ada sebuah kasur king size di tengah ruangan dengan seprai berwarna putih bermotif bunga-bunga kecil berwarna biru. Di depan kasur ada TV berukuran besar lengkap dengan home teathernya. Pria itu sangat tahu bahwa gadis itu sangat suka menghabiskan waktu di depan TV menonton film.

“Kyu aku sangat menyukainya. Terima kasih.” Ujar Min-A sambil memeluk suaminya itu.

“kau orang pertama yang masuk kesini setelah aku. Aku menghabiskan uang tabunganku yang semula akan kugunakan untuk membeli semua kaset game untuk membangun rumah ini. Dan usahaku tidak sia-sia. Kau menyuakinya. Semoga kau akan terus menyukainya. Disini kita akan bekerja sama membesarkan anak-anak kita dan kita akan menua  bersama. Semoga kau tidak mati bosan melihat wajah yang sama setiap harinya selama berpuluh-puluh tahun kedepan.” Min-a hanay terkekeh mendengar deretan kalimat terakhir dari ucapan Kyuhyun.

***

2 MONTHS LATTER

 

“KYU! Neo neomu baboya!” Min-A menendang tubuh Kyuhyun masih terlelap hingga jatuh kelantai.

“Hey ada apa denganmu? Kau ini kerasukan setan apa pagi-pagi sudah menyiksaku?” Kyuhyun memegangi punggungnya, meringis kesakitan.

“berapa kali kau berdoa setiap hari hah? Kenapa tuhan mengabulkan permintaan bodoh setan seperti mu? Ah!” Min-A mengacak-acak rambutnya frustasi.

“kau ini kenapa sih? Pagi-pagi sudah menyiksaku dan sekarang mengataiku. Memangnya aku berbuat salah apa lagi padamu?” Kyuhyun bingung dengan sikap gadis itu. Gadis itu memang sering berperilaku aneh akhir-akhir ini. Dia menjadi lebih manja dan sensitif.

“kau! Kau harus bertanggung jawab! Aku hamil babo!” Min-a hampir menangis mengatakannya.

“benarkah?” Wajah Kyuhyun seketika berubah. Ekspresinya menunjukan kegembiraan yang luar biasa.

“aku tidak akan berteriak seperti orang gila pagi-pagi kalau aku bercanda. Kalau kau tidak percaya lihat saja 10 benda laknat itu menunjukan hasil yang sama. Pokoknya kau harus bertanggung jawab. Aku ini masih muda bagaimana mungkin aku harus memiliki bayi di usiaku saat ini.” Min-a melemparkan semua testpack yang telah digunakannya keatas kasur. Tanpa melihatnya Kyuhyun langsung menghampiri Min-A. Ia mengelus perut min-A yang masih tampak rata dan mengajak calon anaknya untuk bicara.

“aegiya, bersabarlah dengan gadis bodoh yang mengandungmu ini. Semoga saat kau lahir kau tidak mewarisi kebodohannya. Bagaimana bisa dia minta pertanggung jawaban atas kehamilannya pada suaminya sendiri. Bersabarlah karena kau akan tumbuh dalam kandungan seorang ibu yang tak menginginkan anaknya. Tumbuhlah dengan baik. wlaupun dia bodoh dan jahat kau tidak boleh menyiksanya, aku sungguh kasihan melihat tubuh kurusnya jika ia harus mengalami morning sickness.” Ia mengecup perut Min-A dan membelainya lembut.

“Kyuhyun~a bukan itu maksudku. Aku bukannya tidak menginginkan anakku sendiri tapi aku hanya merasa belum siap mengurusnya. Bagaimana kalau aku gagal? Bagaimana kalau aku tidak bisa menjadi ibu yang baik untuknya?” Kyuhyun tersenyum mendengar semua kekhawatiran istrinya. Ia mengecup kening gadis itu dan memeluknya. Ia membelai rambut gadis itu penuh kasih sayang.

“aku tahu kau yang terbaik. Jangan khawatir aku akan selalu berada disisimu membantumu untuk mengurusnya. Kau pasti akan menjadi ibu yang terbaik untuknya. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Arra?” Min-A hanya mengangguk dan membenamkan wajahnya di dada Kyuhyun.

Kau membuatku jatuh cinta sekali lagi. Dan kali ini aku tahu itu nyata. Aku belum pernah mengatakannya secara langsung tapi….. aku mencintaimu Cho Kyuhyun. Aku mencintai semua yang ada dalam dirimu tanpa terkecuali. Terima kasih telah menjadi suami terbaik yang memberikan hari-hari terbaik dalam hidupku. 사랑해 조규현.