Blog Archives

need

Entah sejak kapan aku menginginkannya.

Eksistensinya menjadi kebutuhanku.

Duniaku terasa berbeda tanpanya.

Aku fikik semua yang kurasakan hanyalah karena rasa ketergantungankun padanya

Tapi….

Yang kurasakan tak sesederhana itu.

Begitu banyak hal yang sulit dijelaskan.

Begitu banyak rasa yang ditimbulkannya.

Begitu banyak warna tercipta.

Itu cukup bagiku.

Apa aku terlalu egois untuk mencintainya?

Min-Ah Choi

 

 

 

 

aku kehilangan udaraku.

Alasanku untuk bernafaas. Alasanku untuk terus membuka mataku. Aku kehilangan sepasang benda tercantik seumur hidupku. Kedua mata cokelatnya. Yang selalu terlihat bersinar dimataku. Aku merindukannya. Apakah dia hidup dengan baik hari ini?

Apa yang dia makan hari ini?

Apa dia baik-baik saja?

Apa ada seseorang yang menyakitinya?

Aku tenggelam dalam perasaanku sendiri. Tapi aku hanya dapat mencintainya dalam diam. Menguburnya dalam hingga aku saja yang mengetahuinya. Aku mencintainya karena terbiasa. Terbiasa akan ketergantungan akutnya terhadapku. Hanya sesederhana itu. Hal sederhana yang membuatku ingin menjaganya seumur hidupku. Tidak peduli sesakit apa aku mencintainya. Yang aku tahu hanya aku mencintainya. Fokusku hanya tertuju padanya. Sumber rotasiku.

Read the rest of this entry